Oleh: Nana Sudiana | 19 Desember 2008

Ketika Tahun Bertambah Satu

Perjalanan hari, pekan, bulan, kadang tak terasa kita lalui. Tahu-tahu telah setahun waktu berganti. Tahu-tahu usia pun bertambah satu. Seiring berjalannya waktu, sebentar lagi tahun 2008 akan segera berganti dengan tahun 2009 dalam penanggalan miladiyah. Begitu pula hitungan tahun hijriahpun hampir bersamaan berganti. Dari tahun 1429 kini hendak berganti 1430 Hijriah. Kalau kita renungkan, pergantian tahun esensi sesungguhnya bukan sekedar sebuah pertambahan dari suatu waktu ke waktu berikutnya. Dalam perubahan ini, idealnya mengantarkan kita pada kebaikan-kebaikan baru, pada nilai-nilai positif baru, serta pada akumulasi peningkatan nilai tambah diri yang lebih baik. Intinya saat tahun berganti, mari kita pastikan kebaikan bertambah. Akan sayang sekali kalau bertambahnya waktu ternyata tidak diiringi dengan kebaikan dan nilai-nilai positif baru yang didapatkan.

Apa yang terjadi dalam konteks perubahan waktu ini, ternyata melingkupi kita semua sebagai sebuah kelaziman dalam konteks perubahan. Dalam perubahan yang terjadi tentu saja terdapat nilai positif dan negatif yang ada di dalamnya. Walau begitu, mestinya jika kita hitung-hitung, nilai-nilai positif yang ada dalam diri kita sebaiknya berjumlah lebih banyak dibanding dengan nilai negatif yang ada.

Dalam memaknai pergantian tahun ini, mari kita lihat sejauh mana kita telah melangkah dan berada pada arah yang kita cita-citakan dalam hidup kita. Ada dua faktor utama yang harus diikutkan dalam pembicaraan tentang bagaimana kita menilai kemajuan diri kita. Faktor itu adalah, faktor internal dan eksternal.

Secara internal, kita sudah mulai menghitung kemajuan apa saja yang kita dapatkan di tahun ini. Apa nilai-nilai positif yang kita miliki jika dibandingkan setahun yang lalu. Apa pula nilai tambah (baik aspek pengetahuan, wawasan, keterampilan teknis atau apapun yang kita pelajari dan kuasai) yang kita benar-benar mendapatkannya di tahun ini. Dengan membandingkan secara subyektif (karena memang hal ini bisa berbeda setiap orangnya) kita akan memperoleh gambaran jujur tentang bagaimana kita di tahun ini. Apakah berkategori sama dengan tahun sebelumnya, lebih baik atau malah justeru menurun dibandingkan tahun yang lalu.

Adapun faktor eksternal yang bisa kita cermati adalah bagaimana reaksi lingkungan sekitar terhadap kita. Artinya respon lingkungan sekitar menjadi salah satu indikator penting bagaimana kita diposisikan oleh orang lain. Akseptabilitas menjadi penting artinya, dengan melihat bagaimana reaksi yang lain pada diri kita, kita bisa bercermin secara jernih siapa kita sebenarnya dan apa pula yang lingkungan sekitar kita harapkan dari diri kita.

Kita disamping sebagaimana manusia pada umumnya, sesungguhnya memiliki keunikan atau kekhasan yang berbeda. Sekalipun ada yang kembar, tetap saja manusia memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Sekalipun banyak mahasiswa misalnya, tidak banyak orang yang kenal dengan ikon aktivis mahasiswa. Begitu pula dalam dunia apa saja, dibalik yang banyak, ada yang berbeda. Sebaliknya seberapapun bedanya kita, kalau kurang spesifik bisa mengakibatkan kita kurang berbeda. Kurang dikenali dan dianggap khas. Artinya kita harus bisa memposisikan diri apa adanya sebagai sebuah pribadi yang memiliki integritas. Walau keunikan ini secara alamiah kita miliki, kita juga jangan pernah lelah terus dan terus menggali potensi diri kita. Ingat semakin potensi kita tergali, terasah dan teroptimalkan, maka dengan sendirinya, kita akan tumbuh jadi pribadi yang berbeda secara alamiah. Diri kita akan tersegmentasi ke dalam sesuatu yang khas atau unik tanpa harus ngoyo atau menyengaja alias asal beda.

Mari akhiri tahun ini dengan rencana-rencana brilian mengarungi tahun depan. Mari siapkan tahun depan dengan sejumlah kebaikan baru yang akan segera ciptakan. Mari kita bergandengan tangan, menjadikan diri kita adalah bagian dari kebaikan secara bersama-sama. Karena baik sendirian pastilah akan melelahkan, karena baik tapi tak ada teman hanya akan mengantarkan kita pada kesunyian langkah diri. Mari kita tekadkan diri agar hidup kita adalah kehidupan terbaik yang bisa kita persembahkan bagi kehidupan semesta.

Semoga.

Sisi Selatan Kota Semarang Menjelang Siang.


Responses

  1. Semoga kita lbh mendekatkan diri pd sang pencipta,karena hdp kita di dunia hy sementara.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: