Oleh: Nana Sudiana | 2 Desember 2008

QURBAN SARANA KEPEDULIAN CINTA SEJATI

Setiap manusia pasti punya keinginan, rasa cinta dan impian, walaupun tidak setiap keinginan, rasa cinta dan impian bisa terwujud sesuai harapan. Hal tersebut sangat wajar adanya, bahkan Allah-pun menegaskan hal ini dalam Firman-Nya :

 

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS.Ali Imran(3) : 14).    

 

Rasa cinta yang ada pada manusia tentu saja sebuah rasa yang manifestasinya ada dalam bingkai ketentuan Sang Pencipta, Allah SWT, sehingga ada rambu-rambu yang membatasinya. Di luar itu, rasa cinta yang tanpa landasan sya’riat-Nya jelas hanya akan mengantarkan manusia pada keindahan semu semata. Siapapun yang ingin mencintai karena-Nya, hendaknya ia memahami dimana lanskap cinta diletakan dalam dinamika kehidupan yang dijalaninya. Salah meletakan cinta bukan saja akan menimbulkan fitnah bagi kehidupan seseorang, tapi juga bisa jadi akan menjadi polutan bagi sebuah masyarakat.

 

Qurban Pembuktian Cinta

Bagi yang akhirnya mampu mencapai atau mewujudkan keinginan atau impian yang diidamkan, tentu saja memunculkan rasa kebahagiaan yang dalam. Dan ada beragam sikap manusia yang muncul sebagai ekspresi rasa bahagia tersebut. Ada yang mensyukurinya, ada yang biasa-biasa saja, dan bahkan ada yang justeru menjadi semakin sombong, jauh dari Allah dan menganggap usaha dan kerja keras dirinya-lah yang menyebabkan ia berhasil.

 

Dalam rentang waktu yang di lalui umat Islam, ada momentum yang amat strategis bagi pengingatan kembali spirit ekspresi syukur dan rasa cinta seorang manusia. Momentum itu tidak lain adalah Idul Qurban. Sebuah prosesi yang hanya bisa dilakukan oleh manusia sejati. Manusia yang tahu dengan jelas harus di mana meletakan cintanya di lanskap kehidupan ini.  Mereka yang tidak memahaminya, pastilah akan kesulitan meletakan rasa cinta yang di miliki. Seandainya-pun mereka yang tidak tahu ini sama-sama melaksanakan Qurban, pastilah ia akan merasa terpaksa atau enggan dan tidak menutup kemungkinan rasa ego-nyalah yang muncul saat berqurban “bukankah aku mampu, malu dong sama yang lain kalau tidak qurban”.

 

Qurban sendiri, sebagaimana kita tahu, secara harfiyyah berasal dari kata QarubaYaqrubu-Qurbaanan, yang artinya dekat atau mendekatkan diri. Orang yang berkurban adalah orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah Swt sekaligus mendekatkan dirinya kepada sesama. Betapa pentingnya usaha mendekatkan diri ini (berkurban), sehingga ajaran Islam menetapkan syari’at kurban, dalam bentuk penyembelihan hewan kurban satu tahun sekali kepada yang mampu, yaitu pada setiap Hari Raya ‘Iedul-Adha, ‘Iedul Haj atau disebut juga ‘Iedul Qurban, yang pelaksanaan penyembelihannya bisa dilakukan tanggal 10, 11, 12 ataupun tanggal 13 Dzulhijjah. Ketiga hari terakhir ini disebut hari Tasyriq yang secara harfiyah berarti hari-hari yang penuh dengan daging.

 

Di balik prosesinya yang sederhana, qurban telah menjadi indikator bagi setiap manusia, apakah kita lebih mencintai Allah atau yang lain. Sebagaimana diajarkan Nabiyullah Ibrahim AS, qurban menjadi manifestasi keberhasilan Ibrahim mengalahkan kecintaannya pada selain-Nya. Pertanyaannya kini, sudahkan rasa cinta yang utama dalam diri kita hanya untuk Allah?. Kalau belum, mari kita belajar lewat momentum qurban untuk terus belajar mencintai-Nya, terus menjadikan Allah satu-satunya yang kita sembah dan kita agungkan.

 

Allah SWT berfirman : ” Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. Al Kautsar: 1-3)

 

Apa dan Bagaimana Qurban

Idul Qurban adalah salah satu dari dua hari besar umat Islam. Pada hari itu, disunnahkan bagi muslim yang mampu untuk berkurban dengan menyembelih hewan seperti kambing, domba dan sapi. Tujuan ritual itu selain menekankan nilai kemanusiaan dengan berbagi daging qurban pada sesama, tetapi juga makna yang sesungguhnya yakni kita mampu menyelami nilai−nilai yang diwariskan Nabi Ibrahim As seperti pengorbanan, kesabaran dan kemurnian cinta kita kepada Allah SWT, serta memberangus keburukan nafsu manusia yang hanya layak dimiliki binatang.

 

a.    Keutamaan Berqurban

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha (RA.) bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda, artinya, “Tidaklah anak cucu Adam mengerjakan suatu amalan yang lebih disenangi Allah pada hari qurban daripada mengucurkan darah (menyembelih binatang qurban). Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat kelak dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu.”(HR. Tirmidzi).

 

b.    Hukumnya

Ibadah qurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Bagi yang mampu melakukannya, lalu meninggalkan ibadah itu, maka ia dihukumi makruh. Berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi SAW pernah berqurban dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman, bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih qurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

 

Berqurban menjadi wajib karena dua hal:

  1. Bagi seseorang yang bernadzar untuk melakukannya. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, artinya, “Barangsiapa yang bernadzar utnuk mentaati Allah, hendaklah ia melakukannya”.(HR. Al-Bukhari)
  2. Bahwa seseorang mengatakan, “Ini milik Allah atau ini binatang qurban”, Menurut Imam Malik, jika waktu membeli diniatkan untuk diqurbankan, maka hukum menyembelihnya menjadi wajib.

 

c.    Udhhiyah (Binatang Qurban)

  • Berasal dari kata al-udhhiyah dan adh-dhahiyyah yaitu hewan sembelihan seperti unta, sapi, kambing, yang disembelih pada Hari Raya Qur ban dan hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
  • Binatang Yang Diperbolehkan untuk Qurban

Binatang yang boleh diqurbankan adalah unta, sapi dan kambing. Selain ketiga itu tidak diperbolehkan (QS Al-Hajj (22) : 34). Dianggap memadai berqurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, unta yang berumur lima tahun. Tidak ada perbedaan jantan atau betina.

  • Yang Tidak Boleh Disembelih sebagai Hewan Qurban

Tidak boleh berkurban dengan hewan yang buta sebelah matanya, hewan yang kurus yang tidak mempunyai lemak, yang pincang dan yang sakit. Al-Barraï’ bin ‘Azib bercerita, Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami seraya bersabda, artinya, “Empat macam yang tidak boleh terdapat pada hewan qurban yaitu buta sebelah matanya yang benar-benar nyata kebutaannya, sakit yang benar-benar nyata sakitnya, pincang yang benar-benar nyata kepincangannya, dan yang kurus yang tidak berlemak.”. (HR. Abu Dawud dan Hakim dengan isnad shahih)

 

d.    Waktu penyembelihan hewan qurban

Waktu penyembelihan hewan qurban adalah setelah shalat ‘Iedul Adhha. Rasulullah SAW. bersabda, artinya, “Barangsiapa menyembelih (hewan qurban) sebelum shalat (‘Iedul Adhha), maka hendaklah ia mengulanginya”. (Muttafaqunï’alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu). Sedangkan akhir waktu penyembelihan adalah hari terakhir dari hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah).

 

e.    Bergabung dalam Berqurban

Di dalam berqurban dibolehkan bergabung, jika binatang qurban berupa unta atau sapi, yakni untuk tujuh orang. Diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami menyembelih qurban bersama dengan Nabi di Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).


Fenomena Penumpukan Qurban

Dalam praktiknya di lapangan, ternyata kita menjumpai bahwa pendistribusian qurban belum merata di negeri ini. Distribusi di kota−kota besar sudah dianggap cukup dibanding di daerah−daerah yang masih sangat kekurangan. untuk lebih merata, para pequrban yang ada di perkotaan hendaknya berqurban tidak hanya di sekitar tempat tinggal nya saja, agar terhindar dari menumpuknya qurban di titik yang memang sudah cukup tersedia daging qurban. Masih banyak dipelosok−pelosok wilayah yang belum pernah menikmati sekerat daging, bahkan daging qurban sekalipun. Merekalah yang sebenarnya berhak untuk diberi.

 

Salah satu cara untuk mengurangi kelebihan persediaan daging di satu kota adalah dengan berkurban melalui lembaga. Untuk itulah kenapa hadir beberapa lembaga yang memfasilitasi program qurban. Salah satu lembaga yang telah lama berkecimpung dan cukup berpengalaman dalam program ini bernama PKPU. PKPU lewat program qurbannya yang bertajuk Sebar Qurban Nusantara (SQN) adalah program pendistribusian daging qurban ke berbagai daerah di Indonesia. Program nasional ini dilakukan secara serentak oleh 14 cabang PKPU di seluruh Indonesia, dengan sasaran prioritas daerah minus dan rawan bencana.


Alhamdulillah, sejak tahun 2000-2007, SQN telah berhasil menyalurkan amanah untuk mendistribusikan hewan qurban dari 21.582 orang pekurban, senilai 15 milyar rupiah dengan penerima manfaat tidak kurang dari 2,1 juta orang mustahik yang tersebar dari Aceh hingga Papua.


Benefit yang diperoleh dengan berpartisipasi sebagai pekurban pada program SQN :

1.    Mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia

2.    Turut memberdayakan peternak-peternak dhuafa (yang telah dibina oleh PKPU)

3.    Ketenangan karena disembelih sesuai syariah dan dibagikan kepada mustahik pada hari yang sama

4.    Ketentraman, karena dilakukan oleh PKPU, sebuah lembaga yang telah berpengalaman

5.    Tepat sasaran, karena fpkus distribusi di wilayah bencana, miskin, dan kurang pangan

6.    Mendapatkan laporan pendistribusian qurban


Keunggulan berkurban melalui lembaga seperti ini juga, selain tepat sasaran (kepada mereka yang membutuhkan) juga cerdas dalam hal pengemasan daging qurban. PKPU sebagai pelaksana qurban tahun ini memang menggunakan konsep Fresh and Smart dalam distribusi daging qurbannya. Dengan proses smart, berupa daging olahan (abon) diharapkan akan mampu memperluas cakupan penerima dan sasaran yang ada, karena mereka yang jauh-pun bisa dengan mudah mendapat kemanfaatan daging qurban. Di sisi yang lain, daging yang ada, kelebihannya—yang dijadikan abon—akan juga mampu membantu lebih lama orang-orang yang memerlukan makanan, terutama yang terkena bencana alam dan musibah.
Di Jawa Tengah sendiri, tahun lalu, lewat program qurban PKPU, alhamdulillah terdistribusi hewan qurban ke sejumlah tempat di Jawa Tengah seperti Semarang, Demak, Purwodadi, Kudus, Magelang, Wonogiri, Klaten, Kendal, Banjarnegara, Pekalongan, Brebes serta  Majenang. Program qurban ini sendiri merupakan kerjasama PKPU dengan berbagai lembaga/institusi, perusahaan, BUMN, baik yang berada di Jawa Tengah maupun di Jakarta. Apabila Ingin bergabung dalam rangka cinta untuk sesama, hubungi PKPU Jawa Tengah di 081325873723.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: