Oleh: Nana Sudiana | 22 Oktober 2008

Menjadi Pemimpin

 

Pagi hari kemarin, (Selasa, 21 Oktober 2008) secara kebetulan saya diundang untuk hadir dalam acara Dialog Interaktif Orpol, Ormas dan LSM dalam Menyongsong Pemilu Tahun 2009 di Gedung Juang Kota Semarang.  Dalam dialog ini selain persoalan persiapan pemilu yang dipaparkan ada beberapa ungkapan yang cukup menarik dari forum dialog ini.

 

Yang menarik, justeru bukan pada pemaparan bagaimana dan seperti apa pemilu diselenggarakan, namun saya menangkap ada sisi lain yang disinggung secara sepintas oleh salah satu penanya yang ada di forum. Ia sempat berkomentar, bahwa para pemimpin yang akhirnya muncul yang melewati proses pemilu sebenarnya adalah para pemimpin yang bisa jadi para pemimpin instan. Lho kok bisa, dia berargumen bahwa pada jaman dulu, jaman ia muda (kini ia adalah veteran), untuk menjadi pemimpin orang harus susah terlebih dahulu, bahkan ada sebagian yang harus mendekam di penjara-penjara Belanda maupun Jepang.

 

Namun kini, menjadi pemimpin lebih mudah, orang hanya perlu ikut dalam pemilu, lalu kalau ia beruntung, ia akan jadi pemimpin. Alhasil, kalau dulu banyak pemimpin dipenjara dulu baru memimpin, kini, banyak pemimpin yang dipenjara setelah memimpin.

 

Satu sisi, ada benarnya juga ungkapan bapak ini, kini dengan mekanisme yang lebih sederhana para pemimpin tercipta, mengemban berbagai aktivitas di berbagai bidang. Kalau direnungkan, saat ini seseorang yang biasa saja, dengan berbagai cara (termasuk lewat mekanisme demokrasi ; pemilu) bisa menduduki jabatan sebagai pemimpin. Tidak dibutuhkan proses yang panjang, kesiapan yang kompleks serta pembuktian perjuangan, ketulusan-ikhlasan serta pengabdian yang panjang.

 

Seorang pemimpin yang lahir dari proses instan seperti ini pada akhirnya kurang memiliki mentalitas pemimpin sejati. Dimana dalam term ini ia digambarkan sebagai orang yang lebih mencintai rakyatnya dibandingkan dengan dirinya sendiri.  Wajar ketika akhirnya berkuasa, pemimpin yang prosesnya pendek (instan) seperti ini lebih memerankan dirinya sebagaimana raja (ratu) yang harus senantiasa ditaati perintahnya dan tak pernah salah.

 

Pun saat jadi pemimpin pula, mereka tidak memerlukan hidupnya untuk terus menerus belajar memahami lingkungannya serta mengasah empatinya. Untuk apa ia lakukan semua itu, tokh ia tahu pada akhirnya kekuasaan yang ada bisa jadi tidak lagi berpihak padanya saat ia tidak duduk lagi sebagai pemimpin (baca ; penguasa).

 

Pemimpin seperti ini sadar bahwa ia harus melakukan maximaizing behaviour atas sejumlah asset serta resources yang ia kuasai, kalau tidak, barangkali ia tidak punya modal untuk meredam lajunya ketidakpuasan atas apa yang ia lakukan.

 

Semoga ke depan, kita ketemu dengan pemimpin yang adil sejati, yang cinta rakyat dan negeri ini. Agar keadilan tercipta, kesejahteraan menjelma dan kesewenang-wenangan sirna.

 

Semoga.


Responses

  1. Yups…, sepakat mas nana….
    pemimpin harus punya kredibilitas, kapabilitas, dan moral yang baik…Hidup pemimpin muda, hidup partai anak muda, hidup partai yang bersih, peduli dan profesional!!!!! partai apa ya???? au ahhh gelap!!!🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: