Oleh: Nana Sudiana | 25 Agustus 2008

Parpol Islam dan Pemilu 2009

Republika; Rabu, 23 Juli 2008 

Dari 34 partai politik peserta pemilu, enam di antaranya merupakan partai politik (parpol) Islam. Dari keenam parpol Islam tersebut, empat di an­taranya parpol Islam lama, yaitu PPP, PKS, PBB, dan PBR, sedangkan dua lainnya merupakan parpol Islam pen­datang baru, yaitu PMB dan PKNU.

Partai Matahari Bangsa (PMB) adalah partai yang didirikan oleh kalangan Muhammadiyah yang tidak puas dengan keberadaan PAN yang dianggap tidak memperjuangkan aspirasi dan orang-orang Muham­madiyah. Berbeda dengan PAN yang berasaskan Pancasila, PMB jelas-jelas mencantumkan Islam sebagai asas partai dengan visi terwujudnya misi Islam rahmatan lil’alamin.

PKNU merupakan produk per­pecahan internal PKB akibat peme­catan AM Shihab-Syaifullah Yusuf dari jabatan Ketua Umum dan Sek­jen PKB oleh Abdurrahman Wahid, Ketua Dewan Syuro. Dalam konflik tersebut, kubu Alwi didukung para kiai khos NU. Kubu AM dan kiai yang mendukungnya kemudian mendirikan Partai Kebangkitan Na­sional Ulama (PKNU).

Kehadiran partai Islam pada era reformasi ini tampaknya mengala­mi fluktuasi. Apabila pada Pemilu 1999, jumlah partai (yang berasas) Islam yang ikut pemilu sebanyak 17 partai. Dari jumlah tersebut, hanya PPP yang masuk lima besar dengan memperoleh suara 10,72 persen (59 kursi), PBB meraih 1,9 persen suara, dan PK 1,4 persen suara.

 

Beberapa partai Islam lainnya se­perti PNU, PP, PSII, PPI Masyumi, dan PKU masing-masing hanya memperoleh satu kursi di DPR. Sebagian besar partai Islam lainnya tidak mampu meraih dukungan un­tuk mendapatkan kursi di DPR.

Pada Pemilu 2004 jumlah partai politik Islam yang ikut pemilu seba­nyak lima partai, PPP, PKS, PBB, PBR, dan PPNUI. Dari jumlah par­pol Islam tersebut, tiga di antaranya merupakan parpol Islam baru. 

PKS merupakan kelanjutan dari PK, begitu juga dengan PPNUI ke­lanjutan dari PNU Keduanya mem­bentuk partai baru karena tidak me­menuhi electoral threshold (ET) dua persen. Sedangkan PBR adalah partai produk perpecahan internal PPP.

Hasil Pemilu 2004, dari kelima par­pol Islam itu, hanya dua parpol Is­lam yang memperoleh suara signi­fikan dan memenuhi ET tiga persen, yaitu PPP (8,15 persen) dan PKS (7,34 persen). Bahkan PPNUI sama sekali tidak memperoleh kursi di DPR. 


Tantangan dan prospek

Dalam menghadapi Pemilu 2009, ada beberapa tantangan yang diha­dapi. Di antara tantangan yang mesti dihadapi berkaitan dengan regulasi UU Pemilu. Dalam UU No 10 Tabun 2008 tentang Pemilu ada aturan tentang par­liamentary threshold (PT) 2,5 persen, aturan Daerah Pemilihan (Dapil) 3­10 kursi dalam setiap dapil, dan penggabungan sisa suara. Dengan regulasi seperti itu akan menjadi tantangan yang berat bagi parpol-­parpol Islam (dan juga parpol lainya) untuk dapat meraihnya.

Untuk mencapai PT 2,5 persen suara tentu tidak mudah bagi parpol yang belum mempunyai basis massa yang kuat. Dengan penentuan kursi setiap dapil 3-10 kursi, tingkat kom­petisi di antara partai menjadi ketat ditambah dengan pemberlakuan penghitungan suara 50 persen dari BPP akan menambah tingginya ting­kat persaingan di antara partai un­tuk dapat meraih kursi di DPR.

Untuk parpol-parpol Islam, tan­tangan untuk mendulang suara men­jadi berlipat ditambah dengan beber­apa faktor lainnya. Pertama, di ka­langan umat Islam telah terjadi per­ubahan orientasi dalam pandangan politiknya. Umat Islam tidak lagi melihat parpol Islam sebagai repre­sentasi keislaman, tetapi yang dilihat sejauh mana suatu partai menerap­kan nilai-nilai keislaman.

Kedua, mitos politik kuantitas. Adanya pandangan bahwa mayori­tas penduduk Indonesia beragama Islam dengan serta merta mereka akan memilih partai Islam. Ternyata mitos tersebut tidak sampai pada realitas. Sejarah dari pemilu ke pemilu mem­buktikan bahwa dukungan umat Islam terhadap partai Islam kecil.      

Ketiga, tidak semua umat Islam bersifat ideologis. Artinya bahwa umat Islam tidak memiliki pandang­an yang sama bahwa Islam adalah sebuah ideologi. Dengan Islam seba­gai ideologi maka diperlukan alai per­juangan melalui pembentukan partai politik Islam. Ternyata umat Islam tidak memiliki pandangan seperti itu. Dengan gambaran seperti itu, lalu bagaimana prospek parpol Islam pada Pemilu 2009. Apakah ada pelu­ang bagi parpol Islam untuk men­dulang suara dari pemilih Islam?

Apabila kita merujuk pada survei Indo Barometer pada Juni 2008 lalu, ternyata prediksi perolehan parpol Islam masih relatif kecil. Dalam sur­vei tersebut, perolehan PKS pada po­sisi 7,2 persen, sementara PPP pada posisi 2,3 persen. Jika survei Indo Barometer ini bisa menjadi salah satu patokan maka parpol Islam dalam menghadapi Pemilu 2009 masih sangat berat.

Selain itu, seperti juga pada Pe­milu 2004, pada Pemilu 2009 nanti di antara parpol Islam akan menjadi predator sesamanya. Artinya, bila salah satu parpol Islam suaranya na­ik maka pada saat yang sama parpol Islam lainnya akan menurun jumlah suaranya. Ini terjadi karena ceruk yang diperebutkan oleh parpol-­parpol Islam tidak bertambah, bah­kan mungkin berkurang karena ber­pindah mendukung partai nasionalis dan pluralis.

Persoalan sekarang, bisakah par­pol-parpol Islam tidak menjadi pr­edator sesama parpol Islam? Bisakah parpol Islam mendapat dukungan dari ceruk kalangan nasionalis seba­gaimana kalangan parpol nasionalis mendapat limpahan dukungan dari massa Islam.

 

 

Bila ini bisa dilakukan, maka ha­rapan parpol Islam keluar sebagai partai besar seperti pada zaman Masyumi dulu dapat terwujud. Na­mun, bila tidak maka parpol Islam akan tetap menjadi partai menengah atau bahkan partai gurem. Semoga tidak!.

Lili Romli

Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI

 


Responses

  1. Assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang,
    lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!

    Uang Dihamburkan…
    Rakyat dilenakan…
    Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
    Rakyat diminta menyukseskannya.
    Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
    DEMOKRASI untuk SIAPA?

    Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!

    Halqah Islam & Peradaban
    –mewujudkan rahmat untuk semua–
    “Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
    Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam

    Dengan Pembicara:
    Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
    KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)

    yang insyaAllah akan diadakan pada:
    Kamis, 26 Maret 2009
    08.00 – 12.00 WIB
    Gedung Al Irsyad

    CP: Humas HTI Soloraya
    HM. Sholahudin SE, M.Si.
    081802502555

    Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
    hizbut-tahrir.or.id

    Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
    Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya. (^_^)
    Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)

    Wassalamu alaikum wr. wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: