Oleh: Nana Sudiana | 22 Agustus 2008

Fenomena Caleg Artis & Kaderisasi Partai

 

Bagi partai yang kurang percaya diri, artis adalah jembatan menuju popularitas. Namun hal ini tidak berlaku bagi parpol yang memiliki kejelasan proses kaderisasi di dalamnya. Kita lihat saja, umumnya, parpol yang menggunakan artis semakin banyak adalah parpol yang secara internal tidak memiliki proses kaderisasi secara ketat. Proses rekrutmen sdm mereka relatif mudah, terbuka, bahkan “terlalu gampang” bagi siapapun.

 

Sulit rasanya menemukan kesamaan-kesamaan performance kepribadian para elit atau kader- kader terbaiknya. Mereka lebih “hanya” mengandalkan popularitas orang lain yang kemudian bergabung. 

 

Dibawah ini, ada tulisan dari kompas yang cukup menarik dan setidaknya cukup layak kita renungkan bersama.  

 

Salam.

 

——————————————————————————

 

Kompas, Sabtu, 9 Agustus 2008 | 14:11 WIB

 

GANDENG ARTIS TANDA KRISIS DI TUBUH PARPOL

Jakarta, Sabtu– Menjelang berakhirnya batas pencalegan, sejumlah partai politik melakukan berbagai manuver untuk menggaet calon-calon anggota legislatif yang akan disodorkannya pada pemilih. Fenomena yang terjadi, tak sedikit partai politik yang menggandeng artis sebagai calegnya. Fenomena artis terjun ke kancah politik, sebenarnya tak hanya terjadi pada saat ini. Namun, trendnya semakin meningkat setelah ada artis yang berakhir meraih posisi strategis di level Provinsi maupun Kabupaten. Dan semakin kentara, ketika mendekati masa Pemilu. Ada apa dibalik fenomena ini?

Budayawan Radar Panca Dahana menilai, faktor krisis kepercayaan diri yang dialami parpol membuat parpol-parpol merancang strategi untuk memulihkan citra buruknya. Terseretnya sejumlah politisi ke liang korupsi, membuat masyarakat tak lagi percaya dengan sepak terjang mereka. Kehadiran artis, menjadi alternatif bagi masyarakat. Meskipun, masih sekadar performatif alias mengandalkan penampilan.

“Di politik, terjadi krisis kepercayaan dari politisi dan elit politik ketika lembaga-lembaga, individu-individu dimata masyarakat sudah hancur citranya. Mereka tengah kehabisan akal untuk mengembalikan citra itu. Akhirnya, salah satu upayanya ya menggandeng para artis itu. Artis itu hanya dijadikan manekin politik, bumper dan semacam pita penghias rambut. Secara substansial, kita belum bisa menemukan artis yang memiliki gagasan politik yang menjadikan mereka bisa diandalkan,” papar Radar di Jakarta, Sabtu (9/8).

Efek negatif dari fenomena ini, menurut Radar menjadikan politik sebagai sesuatu yang terlalu cair. Akibatnya, tak ada lagi pemahaman yang memadai tentang politik yang kontemplatif dari para pelakunya. Sisi positifnya, dunia politik tidak lagi teralienasi dan dianggap sesuatu yang mengerikan. “Bandingkan saja, dulu masyarakat menganggap dunia politik itu sesuatu yang mengerikan. Karena dulu politik dikuasai suatu rezim. Tapi sekarang, ada kesadaran politik yang tinggi,” ujar Radar.

Pandangan yang hampir sama juga datang dari pengamat politik Tjipta Lesmana. Dalam pandangan pakar komunikasi politik itu, membanjirnya artis yang berniat menjadi anggota legislatif patut dicurigai. Hal ini menguatkan tesisnya bahwa selama ini terjalin kedekatan antara politisi dengan selebriti. “Artis masuk ke politik, sah-sah saja. Tapi kalau jadi fenomena dan banyaknya artis yang tiba-tiba menjadi politisi, patut dicurigai. Ini akan menurunkan citra politik itu sendiri,” kata Tjipta.

Selain itu, persepsi publik terhadap artis yang kebanyakan seorang pelakon dan penyanyi, membuat mereka tak akan dihargai dan dipandang sebelah mata kiprahnya sebagai politisi. “Saya tetap meragukan artis yang menjadi politisi. Survei dan evaluasi yang saya lakukan, belum ada bukti artis yang berhasil menjadi politisi. Kalau mereka menjadi politisi hanya mengandalkan popularitas, mau dibawa kemana negara ini?,” beber Tjipta.

Artis Ikang Fauzi yang akan menjadi caleg dari Dapil Pandeglang Banten, menyangkal seluruh anggapan pesimistis itu. Ia merasa, artis juga mempunyai kapabilitas dan kualitas untuk menjadi politisi. Modal pendidikan formal yang dimiliki, menurutnya menjadi pengantar memasuki gerbang Senayan. Ia pun menyatakan akan memilih untuk duduk di komisi yang sesuai dengan kemampuannya.”Saya selama inikan berbisnis di properti, pernah juga memimpin pembangunan rumah susun sederhana, jadi saya akan memilih di komisi yang saya tahu, misalnya komisi mengenai infrastruktur,” kata caleg PAN ini. So, kita tunggu saja…


Responses

  1. kalau artis jadi legislator, legislatornya jadi aktor, negerinya jadi sandiwara


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: