Oleh: Nana Sudiana | 25 Juni 2008

Pilgub di Jawa, Bukan Sekedar Pertaruhkan Citra

Jawa bukan sekedar sebuah entitas semata. Jawa telah pula menjadi ikon penting bagi kapasitas sebuah parpol di Indonesia. Barang siapa menguasai Jawa, ia berpeluang menguasai Indonesia. Tidaklah mengherankan jika semua parpol yang ada berlomba untuk menguasai Jawa. Walau Jawa sendiri kini secara riil terbagi menjadi enam propinsi (Banten, DKI, Jabar, Jateng, DIY dan Jatim), namun tetap saja dalam persfektif geostrategis masih berada dalam satu kesatuan cara pandang.

 

Pilkada pertama yang berlangsung secara berantai di Jawa telah dimulai di Banten, bekas daerah Jawa Barat yang dimekarkan. Pilkada Banten yang merupakan propinsi paling baru telah dimenangkan PDIP. Setelah Banten, DKI menyusul melangsungkan Pilkada. Walau DKI ini merupakan jantung Indonesia, ternyata tidak ada partai lama yang dominan di sini. Yang justeru berjaya malah partai baru di Indonesia, yakni PKS. Pilkada DKI menjadi Pilkada paling dramatis, karena satu partai (PKS) melawan (keroyokan) 22 parpol. Hebat. Partai apa pula ini, yang mampu melawan gabungan partai walau akhirnya tetap harus legawa calonnya terkalahkan.

 

Pilkada DKI, justeru menjadi milik PKS. Publik terharu-biru dengan unjuk kekuatan gelombang baru partai ini. Partai yang jadi fenomena Indonesia. Siapapun akhirnya secara obyektif harus mengakui bahwa PKS memang fenomena di Pilkada DKI.

 

Ini belum cukup. Publik semakin terkejut ketika ternyata PKS(berkoalisi dengan PAN) memenangkan Pilgub di Jawa Barat. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) tanpa disangka sebelumnya memenangkan Pilkada Jabar.

 

Partai lama kebakaran jenggot—kalau memang punya jenggot—kenapa calon-calon pilihan mereka terkalahkan tanpa daya melawan partai baru yang belum berpengalaman. Sekali lagi, ini pukulan amat berat untuk mereka yang selama ini menganggap bahwa politik adalah “mainan orang lama”. Belum tahu dia.

 

Fenomena PKS, tidak terjadi di Jawa Tengah. Pilkada di sini justeru berpihak pada PDIP. Partai lama yang juga sekaligus “tuan rumah” di Jawa Tengah. Banyak orang menduga sebelumnya bahwa Golkar-lah kemungkinan yang akan menang di Jawa Tengah. Makanya DPP Golkar sempat kaget begitu hasil qiuck count-nya keluar, ternyata PDIP yang menang.

 

Kalau DKI dan Jabar, yang jadi fenomenanya adalah PKS, di Jawa Tengah, justeru yang jadi fenomenanya adalah Golput. Data yang ada menunjukan, golput mampu mengalahkan pemenang utama pilkada. Pasangan Bibit-Rustri yang diusung PDIP hanya mendapat 44 % suara, sementara hitung-hitungan yang ada, menunjukan golput berada diatasnya, yakni berkisar 45 %.

 

Setelah Jateng, kini mata kita semua tertuju ke Jatim. Siapakah yang akan menang di Jatim. Apakah mereka berlatar belakang dari PDIP, PKB, Golkar, PKS atau partai lainnya. Waktulah yang akan menentukan siapa pemenangnya. Tepatnya waktu pada saat Pilkada, 23 Juli 2008 yang akan jadi momentum pembatas, siapa yang kalah dan siapa yang menang.

 

Saat ini KPU Jawa Timur telah menetapkan lima pasangan calon gubernur. Lima pasang calon tersebut antara lain pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji), Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam), Soekarwo-Syaifullah Yusuf (Karsa), Soejtipto-Ridwan Hisjam (SR), Achmady-Soehartono (Achsan).

 

Pasangan Kaji diusung oleh PPP, PPNU, PNI Marhain, Partai Merdeka, Partai Pelopor, Partai PIB, PNBK, PKPI, Pbr, PDS, PKPB, Partai Patriot Pancasila dengan pengumpulan prosentase 16,72 persen suara. Pasangan Salam diusung oleh Partai golkar dengan prosentase 15 persen suara, Karsa diusung oleh Partai Demokrat dan PAN dengan pengumpulan 17 persen, SR disuung oleh 24 persen suara PDIP dan Achmady diusung oleh 31 persen suara PKB.


Lima pasangan calon itu ditetapkan maju oleh KPU Jawa Timur sebagai calon karena memenuhi syarat administrasi dan verifikasi faktual yang dilakukan oleh KPU. Sedangkan dua calon lainnya yakni pasangan Samiatun-Arif Dharmawan (Sadar) yang diusung oleh PKB kubu Imam Nahrawi dan pasangan Joko Subroto-Wahid Hasyim (Jos) tidak lolos. Keduanya tidak memenuhi syarat administrasi dan verifikasi faktual.


Penetapan lima pasang calon ini oleh KPU Jawa Timur sudah diprediksi sebelumnya, terutama yang menjadi teka-teki adalah pasangan Samiatun-Arif Dharmawan (Sadar) dan Joko Subroto-Wahid Hasyim (Jos). Alasan memenangkan pasangan Achmady-Soehartono, kata Wahyudi, berdasarkan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual ke Departemen Hukum dan HAM DPP PKB yang diakui adalah yang dipimpin Muhaimin Isknadar-Yeni Wahid. Sedangkan berdasarkan verifikasi ke DPP PKB yang diakui adalah DPW PKB Hasan Aminuddin.

 


Responses

  1. PDI-P memang menang di Jateng. Tapi itu belum final, sebab pihak-pihak yang tidak suka telah melakukan penghancuran karakter pada calon yang diusung oleh PKS. Namun, pada akhirnya, KEADILAN lah yang tetap akan menang. Allohu Akbar!!!

  2. Pilkada Jateng masih bercerita bahwa warganya didoninasi kaum abangan

  3. terima kasih berkenan mampir ke blog ini.
    Benar, fakta yang ada tidak bisa kita abaikan bahwa sampai dengan saat ini, realitas politik di jawa tengah masih menunjukan betapa kuatnya basis partai non religi. kemenangan demi kemenangan kepala daerah yang terjadi di jawa tengah makin membuktikan realitas ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: