Oleh: Nana Sudiana | 23 Juni 2008

PILGUB JAWA TENGAH, BUKTI BASIS MERAH

Penghitungan  quick count yang dilakukan beberapa pihak dan dikukuhkan oleh penghitungan manual KPUD Jawa Tengah, pelaksanaan pemilihan gubernur Jawa Tengah hanya berlangsung satu putaran dengan kemenangan pasangan yang diusung oleh PDI-P, yaitu Bibit Waluyo dan Rustriningsih. Padahal sebelumnya banyak kalangan yang memprediksikan bahwa Pilgub Jawa Tengah kemungkinan besar akan berlangsung dalam dua putaran.  

Pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih akhirnya berhasil memenangkan pemilihan gubernur Jawa Tengah dalam satu putaran dengan memperoleh suara 44,42 persen. Jauh meninggalkan pesaingnya yakni Bambang Sadono-Adnan 22,46 persen, Sukawi-Sudarto 15,80 persen, Tamzil-Rozak Rais 11,20 persen dan Agus Suyitno-Kholiq yang hanya memperoleh 6,11 persen.

Kemenangan pasangan yang dicalonkan oleh PDI Perjuangan tersebut tidak meleset dari dugaan karena dari berbagai survai dan polling yang diadakan paling akhir Bibit-Rustri memang menduduki peringkat teratas. Yang mengejutkan adalah perolehan suaranya yang relatif tinggi dan berjarak cukup jauh dengan peringkat kedua. Padahal dalam survai pasangan Bibit-Rustri dan Bambang Adnan memperoleh suara antara 26-28 persen sehingga bersaing ketat dengan selisih suara yang relatif sedikit. Atas dasar itulah semula banyak yang memperkirakan pilgub akan berlangsung dua putaran. Kenyataannya cukup satu putaran.

Mengapa Bibit Rustri yang menang?

Banyak analisis yang bisa dikemukakan dan itu semua penting bagi pembelajaran demokrasi di negeri ini. Pasangan ini relatif yang paling belakangan dideklarasikan sehingga mempunyai waktu yang tidak terlampau banyak untuk sosialisasi misalnya dibandingkan dengan pasangan Bambang-Adnan yang sudah jauh-jauh hari ‘’berkampanye’’.  Ada beberapa alasan yang memungkinkan kenapa calon ini menang. 

1.  Realitas Politik Jawa Tengah

Struktur dan kultur masyarakat Jawa Tengah berperan dalam menentukan kemenangan bibit-rustri. Dan inilah yang membedakan daerah ini dengan daerah lain seperti Jawa Barat. Baik menyangkut landasan ideologis atau pun perilaku yang lebih bisa dikatakan konservatif. Maka muncul kekhasan seperti masih menangnya figur purnawirawan militer dan sebagainya. Figur cawagub Rustriningsih juga berperan besar dalam mendulang suara. Selain faktor kepekaan gender, Rustri dikenal sebagai birokrat yang cerdas, bersih dan terbuka sehingga berhasil memimpin Kabupaten Kebumen. Wajar bila di sana perolehan suara pasangan ini mencapai hampir 70 persen.

Menurut Peneliti Undip, Teguh Yuwono, konservatisme politik Jawa Tengah semakin kokoh dikuasai oleh golongan aliran politik nasionalis melalui PDI-P.  Walaupun Partai Golkar dan Partai Demokrat merupakan dua partai dengan aliran politik yang sama, yaitu aliran nasionalis tetapi dukungan politiknya tidak sebesar yang dimiliki oleh PDIP.

Sementara itu partai-partai dengan basis aliran religius, untuk kesekian kalinya, tidak bisa banyak berbicara dalam politik lokal Jawa Tengah. Tradisi politik Jawa Tengah yang dikuasai oleh aliran politik nasionalis (yang oleh Clifford Geertz disebut sebagai politik aliran abangan) semakin mengakar dan kuat dengan dominasi PDI-P melalui pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih.

2. Hidupnya Mesin Politik Partai

Mesin politik parpol di Jawa Tengah diindikasikan cukup maksimal dalam mendorong calon masing-masing, kecuali mesin politik PKB yang dalam kondisi friksi internal. Mesin politik PDIP bahkan langsung dikomando oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Hasil dari pergerakan mesin ini terlihat dilapangan, mereka relatif lebih solid dan efektif.   

Mesin politik parpol benar-benar teruji efektivitasnya saat berlaga di pilgub, hal ini tentu saja berbeda dengan yang sebelumnya terjadi di Pilkada tingkat lokal di Jawa Tengah, yang lebih mengandalkan mesin politik non partai. Seperti’’Sukma Center’’ pada saat pemilihan Wali Kota Semarang bulan Juni 2005, Salim Center pada pilkada di Rembang, Hendy center pada pilkada di Kendal, dan di tempat lain. walau demikian, menurut Susilo Utomo, ada salah satu mesin gabungan parpol dan non parpol yang yang paling rapi, terorganisasi dan meniru gaya Amerika adalah Sukawi-Sudharto Center. Di samping gencar memasang iklan di media massa, mesin politik Sukawi juga gencar melalui telpon.  

Dengan kemenangan Bibit-Rustri ini, ada inidikasi mesin partai atau paling tidak kekuatan partai ikut memperkuat preferensi pemilih. Dilihat dari pesaing dalam Pilgub Jateng, tampaknya pasangan Bibit-Rustri ini relatif solid. Soliditas pasangan ini, dapat dilihat dari kurang terfragmentasinya suara pendukung kultural dari warga nasionalis, yang direpresentasikan oleh PDI-P.  Berbeda dengan warga nahdliyin, mereka terbelah pada ketiga pasangan cagub, yaitu Bambang-Adnan, Tamzil-Rozaq dan Agus-Kholiq. Dengan demikian, kemenangan Bibit-Rustri pada Pilgub Jateng sekarang ini menyadarkan kembali akan pentingnya soliditas mesin politik kepartaian dan sosok ideal kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.  

3. Tidak ada Tokoh Populer

Berbeda dengan di Jawa Barat, Pilgub Jateng tidak diikuti tokoh yang benar-benar populer. Yang ada hanyalah tohok tingkat Jawa Tengah, bahkan sebagiannya adalah para pemimpin lokal di kabupaten atau kota yang ada di Jawa Tengah. Popularitas yang dimaksud merupakan gambaran bahwa calon yang ada benar-benar memiliki indikator dikenal dan disukai.  

Bibit Waluyo pada Pilgub Jateng 2008 ini, meskipun ia tidak sepopuler Dede Yusuf di Jawa Barat, tetapi menurut Peneliti Undip, Susilo Utomo, merupakan sosok yang mencerminkan orang yang tidak keminter, rendah hati dan polos.

Sedangkan menurut Teguh Yuwono, Peneliti yang sama dengan Susilo (dari Undip), Bibit Waluyo paling mendekati ketiga ciri tersebut baik melalui debat publik maupun penampilan. Dalam debat cagub, misalnya Bibit tampak paling polos dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari panelis. Kalau tidak bisa menjawab, ia berterus terang. Dan yang jelas, dari penampilannya, sosok Bibit merupakan representasi dari wong ndesa, sehingga tidak berlebihan model kampanye Bibit ’’bali ndesa, mbangun desa’’ memang cocok dengan situasi masyarakat Jateng sekarang ini.

wallahua’alam.


Responses

  1. dr dulu Bapak udah jd pengurus PDI,apa yg di instruksikan bu mega…ya ok aja…apalagi pak bibit…siip,bu rustri hebat…merdeka

  2. Selamat kepada Pak Bibit dan Bu Rustri yang cantik.

    Semoga jawa tengah bisa lebih baik ditangan Anda.

  3. PILGUB JAWA TENGAH, BUKTI BASIS MERAH

    Bukannya Jateng Basis Golongan Putih mas ???

  4. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: