Oleh: Nana Sudiana | 26 Maret 2008

EKONOMI ISLAM, DARI MANA KITA MULAI?

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh; dan amat sedikitlah mereka ini. (QS. Sad:24) 

Berbicara tentang ekonomi Islam saat ini, sesungguhnya kita seakan sedang berkaca pada sebuah cermin dengan mozaik keretakan di sana-sini. Bagaimana kita akan memajukan umat dengan konsep ekonomi syari’ah kalau perilaku sehari-hari yang tergambar kadang jauh dari bingkai Islam sebagai landasannya.

Apa jadinya ketika kita ingin berperilaku Islam dengan baik—salah satunya dengan menghindari bunga bank, kita tidak mudah menemukan bank syari’ah dengan makna yang sesungguhnya. Yang ada baru sebatas simbol, label atau berbagai tempelan semu yang kurang substansial. Ada begitu banyak catatan pada perbankan kita, juga pada pelaku ekonomi syari’ah kita. Wajar kalau suatu ketika, di sebuah forum praktisi dan pengkaji ekonomi syariah ada tokoh muslim di Semarang yang secara terbuka mengkritik bahwa perilaku ekonomi syari’ah kita seakan “belum utuh”. Ia secara sederhana mencontohkan, bagaimana kita mau mendukung perkembangan ekonomi syari’ah dengan baik, dengan saling bermitra dan bergandengan tangan, kalau air kemasan dan snack yang terhidang di tengah kita ternyata bukan milik orang Islam. Lalu kita sebenarnya sedang melakukan apa?.

 Persoalan yang ada akan semakin membuat sesak dada kita jika kita kemudian berpikir tentang penanggulangan kemiskinan umat yang ada di hadapan kita. Data statistik—yang simpang siur dan saling berbeda—menunjukan ada kurang lebih 40 juta pengangguran di negeri ini, dan separuh lebih ternyata mereka adalah saudara kita, umat Islam. Ironis memang, negeri yang berjuluk “jamrud khatulistiwa” ternyata berhias kemiskinan dan kepapa-an. Betapa malu wajah kita dihadapan umat lain. Umat yang berjumlah banyak ternyata hanya menjadi beban masa depan. Lalu apa yang kita lakukan?   

Back To Islam

Solusi utama dari krisis yang melanda umat Islam tidak bisa dilakukan secara farsial, butuh kebersamaan serta penyatuan kekuatan untuk bisa memutus lingkaran masalah kelemahan umat ini.  Selain itu, umat juga butuh keteladanan dari para pemimpin yang ada. Umat butuh melihat, membuktikan dan merasakan langsung empati, serta dukungan dari para pemimpin mereka. Sudah bukan saatnya Islam sekedar dijadikan retorika serta penghias bibir semata. Umat Islam butuh implementasi sejumlah makna dan kandungan Al Qur’an dan Hadist dari seorang rasul yang mulia, Muhammad SAW. Untuk kita secara pribadi, marilah kita memperbaharui niat kita untuk terus bisa konsisten dalam berbagai kebaikan yang kita lakukan. Mari, dengan sekuat tenaga kita berikhtiar agar Islam bukan slogan semata. Termasuk di dalamnya kita juga mulai ber-syari’ah bukan semata dalam wilayah ekonomi saja. Kita juga mulai hari ini, mari bergandengan tangan, memperbaiki apa yang ada dengan  dada yang lapang dan pikiran yang tercerahkan. Tersinari sibghah (celupan)-Nya sepanjang hayat di kandung badan. Semoga.  

Wallahu’alam bi showwab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: