Oleh: Nana Sudiana | 19 Maret 2008

Kemiskinan Dan Idealisme

Dari tahun ke tahun angka kemiskinan di Indonesia terus bertambah. Tragedi demi tragedi kematian karena kemiskinanpun terus terjadi di hadapan kita. Terakhir, nurani kita tersentak saat media massa ramai memberitakan kematian Basse. Dg Basse (35) seorang wanita di Makasar, yang sedang hamil beserta anaknya Bahir (5) ditemukan tewas pada Jum’at (29/02/08) di rumahnya. Kematian Basse berikut janin yang dikandungnya dan juga Bahir anaknya diduga karena kelaparan akibat kemiskinan (Republika, 4/03/08). Yang membuat kita semakin trenyuh, mereka ternyata tidak menelan sebutir nasipun hingga selama tiga hari menjelang kematiannya. Anak bungsu dari Basse, buah pernikahannya dengan Basri pun akhirnya harus dibawa ke rumah sakit karena menderita sakit yang amat kritis.  

Anehnya, kematian karena kemiskinan selalu saja diingkari oleh para pembuat kebijakan di daerah yang bersangkutan. Polemik yang muncul justeru sangat tidak produktif. Tengok saja apa yang disampaikan pejabat Dinas Kesehatan setempat, begitu kasus ini mencuat, Dinas Kesehatan di sana langsung saja membantahnya dan mengatakan bahwa kematian Basse dan anaknya bukan karena kelaparan namun  karena dehidrasi akut. Sekali lagi, kemiskinan yang kadang muncul secara mencolok seringkali menjadi momok yang cukup memalukan bagi para pejabat. Dan yang luar biasanya, setiap peristiwa akibat kemiskinan yang muncul selalu saja para pejabat kita sibuk membantahnya, bukannya secara bijak melakukan croschek dan melakukan upaya-upaya mengatasi kemiskinan secara signifikan.  

Memulai Kemandirian

Kemiskinan memang laksana tembok besar yang menghalangi terbukanya masa depan seseorang. Kemiskinan pula yang bukan saja menyekat keberhasilan langkah, namun juga Ia mampu mematikan seluruh potensi yang dimiliki seseorang. Kemiskinan dianggap pula batu sandungan bagi teraihnya banyak hal dalam kehidupan. Pertanyaannya, benarkah sebuah kondisi yang dilingkupi awan tebal kemiskinan benar-benar mematikan langkah menuju kesuksesan. Betulkah, kemiskinan yang akut mampu membunuh potensi kesuksesan seseorang.  

Dalam kasus Ir. Ciputra, seorang tokoh arsitektur Indonesia, Kemiskinan justeru menjadi pendorong bagi lahirnya jalan kesuksesan. Kemiskinan yang Ia alami bahkan malah menjadi energi dahsyat untuk maju. Idealisme yang dimilikinya pula yang melayarkan Ciputra kecil meretas mimpi panjang sebuah pengabdian bagi orang lain. Ciputra kecil pun konsisten memiliki idealisme untuk maju, lewat jalinan idealisme ia rangkai secara perlahan ia menapaki langkah-langkah hidupnya.  

Ciputra  lahir di Parigi, sebuah kota kecil di Sulawesi Tengah. Ia lahir di tengah kepapaan sebuah keluarga miskin. Bapaknya bernama Tjie Siem Poe dan ibunya Lie Eng Nio. Sejak kecil ia memang bertekad menjadi seorang insinyur arsitek yang dapat mengatasai kemiskinan dan kemelaratan. Saat dia berumur 12 tahun, bapaknya meninggal di penjara Jepang, sehingga praktis ia diasuh secara tunggal oleh ibunya saja.   

Saat mahasiswa di Jurusan Arsitektur ITB, Ciputra dan teman-temannya mendirikan perusahaan konsultan Biro Arsitek Daya Tjpta. Namun, hal itu tidak memuaskan hasrat Ciputra untuk menjadi arsitek yang berjiwa entrepreneur, menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain, dengan mendirikan PT Pembangunan Jaya pada 1962. Proyek pertama yang dikerjakan adalah mengubah kawasan Senen, yang dikenal Kumuh, sarang pencopet, pelacuran, dan kemiskinan, menjadi kawasan yang tertib, bersih dan modern.  

Berkat tangan dinginnya, sejak tahun 1967, kawasan Senen berubah menjadi pusat perdagangan yang dipenuhi dengan ruko dan pusat perbelanjaan modern pertama dan terbaik di Jakarta pada waktu itu. Ancol adalah merupakan proyek kedua yang paling fenomenal. Meski pada abad ke-17 Adrian Valckenier, gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu, sudah merintis pembangunan rumah peristirahatan di tepi pantai Jakarta tersebut, namun pada zaman Jepang, kawasan itu mulai ditinggalkan. Dengan berbekal visi Bung Karno dan permintaan gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, yang meminta Ancol dijadikan setaraf dengan Disneyland-nya Amerika. 

Hasilnya, Ancol masuk sepuluh besar kawasan wisata terbesar dunia dengan jumlah pengunjung 12 juta orang per tahun. Bukan hanya itu, PT Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan perusahaan patungan milik Pemerintah DKI (72 persen), PT Pembangunan Jaya (18 persen), dan publik (10 persen) mendapatkan laba bersih lebih dari Rp 144 miliar pada 2007. Kata Ciputra, “Di rawa yang kotor dan berlumpur itu, saya melihat peluang besar”. Ciputra pula yang mendongkrak Pondok Indah menjadi kawasan elit dan berkelas walau tadinya hanya hutan karet yang kurang produktif.       

Dengan melihat perjalanan Ciputra, kita harusnya tergugah bahwa kemiskinan bukan berarti mematikan langkah. masih terbuka peluang bagi mereka yang punya idealisme dan kreativitas untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita mampu menumbuhkan spirit kemandirian bagi mereka yang tergolong dhuafa’  ini. 

Dan inilah barangkali tugas yang tidak mudah bagi kami di PKPU, menjadikan ruh kemandirian tidak hanya mampu merasuk kedalam jiwa para dhuafa’ (mustahik) binaan kami tapi secara nyata mampu terwujud dalam keseharian aktivitas dan dinamika lembaga kami di PKPU. Karena itu, tolong do’akan kami agar langkah-langkah kami mampu konsisten dalam mengusung ruh kemandirian menuju terciptanya kesejahteraan yang semakin nyata.  

Wallahu a’lam bi showwab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: