Oleh: Nana Sudiana | 17 Januari 2008

PEMBERDAYAAN ; MELAWAN BELENGGU KEMISKINAN

Sebelum Indonesia terperosok ke dalam krisis ekonomi, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan “hanya” 22,5 juta. Oleh karena pemerintahan Orde Baru gagal menanggulangi krisis ekonomi, maka jumlah orang miskin membengkak menjadi 78,9 juta. Keadaan ini salah satu yang memicu terjadinya reformasi di Indonesia, yang mengakibatkan Presiden Soeharto terpaksa lengser keprabon. Ini adalah angka kemiskinan versi BPS. 

 

Ada kemungkinan angka kemiskinan versi BPS terlalu kecil, apalagi bila pengukuran kemiskinan itu menggunakan patokan pengeluaran rumah tangga “ekuivalen nilai tukar beras” (dalam kg/orang/bulan). Bila mengacu pada tulisan Prof. Dr. Sajogyo, “Garis Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan” (Yogyakarta, Aditya Media, 1996), maka yang digolongkan miskin adalah orang yang pengeluaran rumahtangganya sama dengan, atau di bawah 320 kg/orang/tahun untuk perdesaan, dan 480 kg/orang/tahun untuk perkotaan. 

Paska reformasi hingga hari ini, pergerakan ekonomi Indonesia ternyata tidaklah benar-benar menggembirakan bagi kalangan dhuafa’. Jargon yang mengatakan bahwa stabilitas politik pastilah akan diiringi stabilitas ekonomi tidaklah sepenuhnya benar. Apalagi budaya masyarakat, dari hari ke hari terkesan semakin menunjukan gejala konsumerisme. Orang-orang kaya, banyak yang kurang memiliki kepedulian untuk bisa berbagi dengan mereka yang miskin.    

Untuk melawan kemiskinan, dibutuhkan tidak saja strategi yang tepat, namun juga kebersamaan yang kuat dari seluruh elemen bangsa. Sudah tidak saatnya lagi pemerintah, institusi swasta, dunia usaha atau bahkan LSM menggembar-gemborkan mampu memerangi kemiskinan secara sendirian. Dengan kebersamaan yang terjalin, harapannya kita mampu menghindari berbagai dampak dan akibat kemiskinan yang terjadi di negeri ini.  

Atas kesadaran untuk ikut mengurangi desakan kemiskinan, mari kita singsingkan lengan baju untuk terus belajar serta mengembangkan kapasitas diri kita, sehingga kita mampu memerankan diri menjadi bagian dari problem solver, bikan sebaliknya menjadi problem maker. Mari kita bergabung bersama elemen-elemen perubahan baik lewat lembaga pendidikan, LSM, lembaga sosial, ormas, lembaga kemanusiaan atau apapun lembaga yang kita miliki untuk bergerak bersama menjadi kontribusi pengurang kemiskinan. Kita semua tidak perlu menunggu kaya terlebih dahulu untuk bisa memerankan diri kita sebagai bagian dari perubahan ini. Kalaupun sudah kaya, tidak tidak perlu menjadi layaknya sinterklas, yang bermurah hati bagi-bagi hadiah lantas ditinggal pergi.  

Karena itulah, kami—saya bersama teman-teman di PKPU—berdiri bersama menjadikan lembaga tempat kami berhimpun untuk terus bergerak mengusung perlawanan terhadap belenggu kemiskinan. Kami bergandengan tangan bersama mendesain berbagai macam program dan aktivitas dalam sebuah garis untuk mewarnai perubahan masyarakat. Kita semua tentu tidak berharap kita sekadar memberi “ikan”, dalam proses pemberdayaan. Akan menjado lebih baik apabila sejumlah usaha yang kami lakukan pada akhirnya mampu memberi “kail” dan “keterampilan mengail”.  

Latar belakang program yang dilakukan cukup mendesak itu adalah munculnya kekhawatiran bahwa jika PKPU dan kelompok lain hanya membagi bantuan saja, maka akan muncul ketergantungan dari masyarakat. Jika itu terjadi, maka berapa pun bantuan yang diberikan tidak akan cukup. 

PROSPEK Sebagai Solusi

PROSPEK yang merupakan singkatan dari Program Sinergi Pemberdayaan Ekonomi merupakan salah satu strategi pemberdayaan PKPU untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Program ini, selain mendorong meningkatnya perekonomian warga masyarakat yang dibina PKPU, juga memberikan  kesiapan sikap mental, administrasi, teknis dan wawasan berorganisasi bagi masyarakat.  Harapnya program ini mampu menjadi motor penggerak perekonomian orang-orang miskin. Inti program ini pada dasarnya merupakan pengembangan potensi ekonomi masyarakat. Di samping itu program ini juga membantu bagaimana mengelola sebuah usaha (dari manajemen keuangan yang sederhana sampai dengan pemasaran). Dalam melakukan program ini, PKPU sangat berharap bisa menggalang kerja sama dengan siapapun, baik donator perseorangan maupun lembaga.


Responses

  1. terima kasih telah berkunjung ke weblog saya di wordpress.com. Kadang, pemberdayaan masyarakat miskin hanya dijadikan “menu spesial” kala pemilihan saja. Tempe-Tahu saja sekarang harganya naik. Bukankah ada ketidakadilan terselip di Indonesia? Padahal, tempe-tahu adalah salah satu lauk-pauk yang memenuhi standar empat sehat-lima sempurna dan masih bisa dikonsumsi warga miskin. Sekarang saya seakan tak percaya terhadap politikus bangsa ini, bahkan kala Pilgub 2008 waktunya semakin mendekat.
    Maka, saya satu pendapat dengan Mas Dadan Sudiana dalam program pemberdayaan masyarakat miskin. Sukses selalu…!

  2. sekarang tingkat kemiskinan di indonesia sudah sangat mengkhawatirakan.sebenarnya mudah saja solusi untuk mengentaskan kemiskinan, hanya satu kuncinya rasa solidaritas untuk berbagi dan kesadaran dari sendiri untuk membantu sesama. Tapi sepertinya hal itu hanyalah impian, karena masyarakat di indonesia sebagian besar matanya sudah tertutup akan kesilauan harta. Sehingga mereka hanya asyik dengan hartanya sendiri, tanpa memikirkan orang lain. ya, semoga dengan banyaknya kejadian2, yang mencerminkan keterpurukan ekonomi di indonesia, banyak orang akan tersadar untuk saling membantu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: