Oleh: Nana Sudiana | 13 Januari 2008

PERGULATAN DA’WAH MENUJU KEMENANGAN

Di tengah situasi dan kondisi krisis multidimensi yang pernah terjadi secara berkepanjangan di Indonesia, ternyata benih-benih da’wah semakin tumbuh menggeliat. Bak jamur di musim penghujan, di segenap penjuru tanah air kini tumbuh bermekaran kader-kader da’wah yang siap bergabung dan menjadi penegak da’wah. Dulu barangkali kita kurang menyadari bahwa Allah SWT memberikan keberkahan pada gerakan da’wah justeru tidak di tengah gelimang kemakmuran dan kesejahteraan anak-anak negeri.  Allah justeru memberikan kekuatan kepada gerakan ini untuk berkembang secara eksplosif di saat rezim yang berkuasa semakin terbukti tidak mampu mengelola negara ini dengan baik.  Allah juga seakan memperlihatkan sebuah ironi besar antara tatanan masyarakat yang diidealkan gerakan da’wah dengan realitas keseharian yang kita jumpai saat ini. Hingga dari kondisi inilah seolah Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat, merasakan dan merenungkan betapa sistem yang tidak sesuai dengan syariat-Nya pasti tidak menemui keabadian, cepat atau lambat ia pasti akan tergantikan dengan sistem yang baru, sampai pada sistem dari-Nya lah yang akan mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan manusia secara tuntas.  

Aturan-aturan kehidupan dalam masyarakat yang selama ini telah dikembangkan negara saat ini justeru implementasinya banyak dipertanyakan oleh masyarakat sendiri. Apapun namanya, mulai  dari apa yang dinamakan moralitas, etika, akhlak bangsa bahkan sampai Undang-Undang Dasar kini disangsikan kemampuannya menjadi pemberi arah kehidupan yang lebih baik, bagi bangsa dan masyarakat Indonesia secara luas. Masyarakat kini seolah telah sakit. Mereka bahkan telah sampai pada sebuah kesakitan sosial yang amat kritis. Kasus pembakaran hidup-hidup para tersangka pelaku kejahatan seakan saat ini telah menjadi trend yang mewabah hampir ke seluruh kota-kota besar bahkan juga kadangkala terjadi di daerah-daerah di berbagai wilayah Indonesia. 

Barangkali masyarakat kita telah sampai pada apa yang disebut dengan frustasi sosial. Mereka telah cukup lelah terombang-ambing proses transisi yang tidak jelas hasilnya di tengah deraan krisis yang semakin menghimpit. Masyarakat bisa saja telah merasa kehilangan kepercayaan terhadap masa depan mereka. Persoalan-persoalan yang mereka hadapi suatu saat akan mengakumulasi. Mereka akan sampai pada ketidakjelasan pilihan, apakah mereka akan tetap menjaga sejumlah harapan yang muncul (the rise expectation), atau akan memperturutkan rasa frustasi (the rise of prustation) yang juga muncul bersamaan. Jika ini dibiarkan berlarut tanpa ada political will yang memadai dari berbagai pihak, terutama dari para penguasa yang menjadi penanggungjawab kehidupan bernegara, maka tunggulah saat dimana situasi yang ada akan sampai pada situasi sosial yang dinamakan penghancuran kepercayaan diri secara massal (the mass prustation).  Apabila sampai pada fase ini, masyarakat akan berjalan tanpa kendali, tanpa arahan dan tanpa bingkai nilai apapun.       

Di tengah puncak tragedi sosial seperti itulah biasanya masyarakat mengharapkan munculnya “nilai-nilai baru” yang sebelumnya tidak mereka temukan dalam kehidupan keseharian. Nilai baru apapun yang muncul saat itu akan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang selama ini telah kadung jenuh dan tidak percaya dengan nilai-nilai lama. Kondisi inilah yang cukup menantang bagi gerakan da’wah, dimana masyarakat akan “mencicipi dan membuktikan” apakah nilai baru yang ditawarkan gerakan da’wah cukup ampuh dalam menyelesaikan berbagai krisis yang terjadi. Daya dukung situasi tersebut akan menjadi pendorong yang cukup besar bagi meluasnya da’wah di tengah masyarakat. 

Perubahan Mentalitas Menuju Kemenangan

Ketika terjadi harapan yang besar terhadap nilai-nilai da’wah beserta para pelakunya, maka segera saja timbul persoalan penting dalam struktur da’wah secara internal. Di sana akan tumbuh tarik-menarik dua kepentingan besar, apakah da’wah akan segera mengisi seluruh peluang yang mulai terbuka, memaksimalkan seluruh potensi dan merambah pada penguasaan struktur masyarakat yang ada. Kepentingan yang lainnya adalah agar gerakan da’wah  tetap sesuai dengan rencana semula, melewati tahap demi tahap yang telah ditetapkan sebagai sebuah blue print gerakan tanpa ikut terpengaruh dengan hiruk pikuk kondisi sosial masyarakat.  Ketika sebuah gerakan da’wah berhasil menyeimbangkan dua tarikan besar tadi, kita bisa pastikan gerakan da’wah seperti itu akan dengan cepat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Di saat yang sama mereka juga akan dipercaya masyarakat untuk masuk dalam berbagai struktur sosial yang telah ada selama ini.   

Masalahnya kini, sudah siapkah para pelaku da’wah “menjadi pemimpin baru” yang bisa jadi menjelma dalam bentuk para pejabat atau birokrat baru. Jangan sampai di lapangan justeru terjadi kegagapan sosial akibat belum siapnya mentalitas para aktivis da’wah karena alasan-alasan apologis seperti belum terbiasa, sedang dalam proses belajar atau belum pengalaman. Kalau para “pemimpin baru” ini tampil dalam kondisi tidak meyakinkan, tidak mampu menjabarkan secara operasional nilai-nilai da’wah yang telah lama mereka yakini maka habislah kesempatan yang terbuka lebar ini. Masyarakat akan dengan mudah mengatakan “ternyata sama saja, nilai lama yang jauh dari sentuhan da’wah dengan nilai yang dibawa oleh para aktivis da’wah”. Kalau sudah seperti ini, kita sesungguhnya sedang set back menuju titik balik, mengulang sejarah panjang yang kelam.    

Wallahu’alam bishowwab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: