Oleh: Nana Sudiana | 10 Januari 2008

Seni Dalam Propaganda & Kampanye Politik

“Saya bisa mengatakan secara terus terang bahwa seorang muslim tidak akan sempurna Islamnya kecuali jika ia seorang politisi, mempunyai jangkauan pandangan yang jauh, dan mempunyai kepedulian yang besar terhadap umatnya”. 

(Hasan Al Banna dalam  Risalah Pergerakan, 1998)  

Seni dalam Kehidupan Manusia

Manusia, adalah makhluk Allah yang paling sempurna penciptaannya. Di dalam diri manusia, terkandung dua dimensi sekaligus, yakni dimensi fujurohaa wa taqwaha (keburukan dan ketaqwaan). Inilah barangkali yang pada akhirnya membuat manusia yang satu dengan yang lain menjadi sangat unik, karena masing-masing memiliki kadar keburukan dan ketaqwaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap manusia yang hidup di alam ini, selain telah memiliki taqdir yang bersifat mutlak yang berlaku atas dirinya, juga memiliki dimensi yang bernama ikhtiar. 

 

Hal tersebutlah yang membedakannya dengan misalnya malaikat, dimana malaikat tidak memiliki hak untuk berikhtiar. Dari sisi inilah manusia dari satu jaman dengan jaman lain memiliki tingkat peradaban yang terus berkembang. Perkembangan ini cukup kompleks sifatnya, bukan saja dari sisi pemikiran dan perilaku namun sudah pada sekup yang lebih luas seperti pada kehidupan sosial, ekonomi, politik, seni dan budaya dan lain-lain.  

Seni dan budaya sebagai bagian integral dari proses perkembangan kehidupan manusia tidak lepas pula dari proses perkembangan tersebut. Dari jaman ke jaman ada perubahan yang terjadi, baik dari sisi teknik maupun materi berkesenian yang ditampilkan manusia. Secara umum, trend yang berkembang dalam kesenian adalah, bahwa semakin ke sini, ternyata semakin seni yang ada tersebut menjadi kompleks. Artinya sebuah produk seni, saat ini bisa jadi mengandung muatan yang tidak satu dimensi. Di dalamnya bukan saja telah meluas makna dan kandungan tafsirnya, tapi bisa jadi juga telah mengalami revolusi dari sisi format dan style-nya.   

Seni dalam Tarbiyah Islamiyah

Islam adalah agama fitrah, yaitu agama yang berisi ajaran yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia, Islam bahkan menyalurkan, mengatur, dan mengarahkan fitrah manusia itu untuk kemuliaan dan kehormatan manusia sebagai makhluk Allah. Dalam hal berkesenian, Islam memandang bahwa rasa seni pada hakikatnya adalah merupakan penjelmaan dari rasa keindahan yang  dimiliki seorang manusia. Rasa ini juga  dalam pandangan Islam merupakan salah satu fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia. Namun rasa tersebut tentu saja harus kembali dalam aturan Allah SWT dalam proses artikulasinya. Makanya rasa tersebut harus senantiasa dipelihara dan disalurkan dengan baik dan benar sesuai dengan jiwa, semangat dan ajaran serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam Islam. 

 Tarbiyah Islamiyah sebagai hal tak terpisahkan dari proses kehidupan seorang muslim dalam perkembangannya ternyata harus pula mampu mengakomodaikan potensi seni dan budaya yang ada pada setiap pelakunya. Sehingga outputnya akan tetap memberikan ruang yang memadai bagi tumbuhnya inisiatif dalam berkesian dan berudaya. Dari sini, diharapkan proses panjang tarbiyah tidak “membunuh” potensi yang ada, tapi justeru sebaiknya mendorong para pelaku kesenian untuk lebih giat berproses dengan dunianya dengan tidak keluar dari koridor yang ada.

Hal ini harus disadari bersama, karena sebenarnya hakikat tarbiyah atau pendidikan Islam sendiri bertujuan untuk memberdayakan dan mengembangkan seluruh potensi kebaikan yang ada pada diri manusia. Dalam hal ini, Islam telah dengan jelas memandang manusia sebagai keseluruhan yang utuh; yang terdiri dari jasad, akal dan ruhani. Ketiga aspek ini merupakan kekuatan yang sangat dahsyat, dan kalau dikelola dengan baik dan maksimal akan mampu menghasilkan sesuatu yang dahsyat pula. Bila diarahkan kepada kebaikan, kebaikan yang akan dihasilkan pun akan sangat besar. Demikian pula sebaliknya.  

Dalam pendidikan jasadi, Islam menganjurkan untuk melatih berenang, berlari, bermain pedang, menunggang kuda dan sebagainya sejak sedini mungkin. Dalam pendidikan akal, Islam mengajak umatnya menganalisa, menghubungkan premis-premis, dan memberikan cara berpikir yang lurus. Untuk menjaga agama, Islam juga menganjurkan menguatkan daya hafal umatnya dengan memberikan materi-materi hafalan yang besar dan berguna, seperti al-Qur’an, hadis, dan syair. Sedangkan aspek ruhaninya pun diperhatikan dengan berbagai macam hikmah, tazkirah dan ibadah.  

Ketiga aspek ini tentulah tidak bisa diraih dengan hanya mengandalkan pendidikan formal saja. Maka Islam menumpukan pendidikan juga kepada masyarakat dan lingkungan. Kesatuan persepsi dan misi antar lembaga-lembaga itu juga harus dibangun. Lembaga-lembaga yang sangat membantu pendidikan adalah rumah, masjid, lingkungan rumah, media massa dan sebagainya. Dalam ketentuannya masing-masing, semua itu sudah diarahkan untuk bersama-sama memberdayakan potensi manusia.  

Batasan-Batasan dalam Berkesenian

Menurut Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya yang berjudul  Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh (Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah), ada batas-batas yang tegas dari proses berkesenian seorang manusia, khususnya beliau jelaskan dalam konteks sebuah lagu atau nyanyian. Adapun batas-batas tersebut adalah : 

1. Tidak semua lagu diperbolehkan      

Dalam konteks lagu,  tidak semua lagu pada dasarnya diperbolehkan. Maka temanya atau isinya harus sesuai dengan adab dan ajaran Islam. Maka tidak boleh menyanyi dengan kata-katanya Abu Nawas:

“Biarkan aku mencela, sesungguhnya celaanku itu merayu, dan obatilah aku dengan penyakit.”

Dan lebih berbahaya lagi adalah kata-katanya Iliya Abi Madhi di dalam qasidahnya, “Ath-Thalaasim”:

– Aku datang, tidak tahu dari mana, tetapi aku datang!

– Dan sungguh aku telah melihat di hadapanku ada jalan maka aku berjalan.

– Bagaimana aku bisa datang? Bagaimana bisa melihat jalan, aku tidak tahu.

 Ini merupakan tasykik (peraguan) terhadap dasar-dasar keimanan, baik secara prinsip awal permulaan, tempat kembali dan prinsip kenabian. Di antara lagu-lagu yang dilarang adalah lagu yang berjudul “Dunia adalah Rokok dan Segelas Minuman Keras” lni juga bertentangan dengan ajaran Islam yang telah menganggap minuman keras sebagai kotoran dari perbuatan syetan. Bahkan Islam telah melaknati orang yang minum minuman keras, yang memproduksi, yang memperjualbelikan, yang membawanya dan setiap orang yang membantu usaha itu. Demikian juga rokok merupakan suatu penyakit yang berbahaya bagi kesehatan fisik dan ekonomi. 

Lagu-lagu yang menyanjung orang-orang zhalim, para thaghut, dan orang-orang fasik dari para pengusaha yang menimpa ummat Islam sekarang ini, bertentangan dengan ajaran Islam yang melaknati orang-orang zhalim dan setiap orang yang membantu mereka, bahkan yang membiarkan (mendiamkan) mereka. Maka bagaimana mungkin dibolehkan adanya orang yang menyanjung mereka?

Demikian juga lagu-lagu yang mengagungkan orang yang bermata keranjang dan yang berhidung belang, laki-laki atau wanita, itu juga bertentangan dengan Islam yang kitabnya selalu mengajak: 

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka memelihara pandangannya.…”katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pendangannya …” (An-Nur: 30, 31).

 Rasulullah SAW berkata kepada Ali :

 “Wahai Ali, janganlah kamu mengikuti pandangan dengan pandangan berikutaya. Sesungguhnya untukmu pandangan yang pertama, dan tidak boleh untukmu pandangan yang terakhir (kedua).” 

2.       Kemudian cara melagukan itu sendiri juga menjadi perhitungan.  

Karena bisa jadi kalau dilihat dari isi lagunya tidak ada masalah, tetapi cara melagukan dari penyanyi itulah masalahnya. Seperti mendesahkan suaranya untuk membangkitkan rangsangan bagi orang-orang yang hatinya sakit. Hal ini dapat mengalihkan lagu-lagu itu dari boleh menjadi haram, syubhat atau makruh. Seperti yang kebanyakan disiarkan atau ditayangkan sebagai permintaan para pendengar radio dari jenis lagu-lagu yang membangkitkan seks, cinta dan kerinduan dengan berbagai variasinya, terutama di kalangan muda-mudi. 

Sesungguhnya Al Qur’an telah memberikan wasiat kepada para isteri Rasulullah SAW :

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka Janganlah kamu tunduk (melunakkan) dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucaphanlah perkataan yang baik!.” (Al Ahzab: 32).

 Maka bagaimana jika di samping suara yang lambat itu, masih disertai dengan sajak, irama dan musik. 

3.       Lagu-lagu yang dinyanyikan tidak boleh disertai dengan perbuatan yang diharamkan

Perbuatan yang diharamkan sendiri bisa jadi berupa minum khamr, tabarruj (menampakkan aurat) atau ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, tanpa batas dan persyaratan. Cara yang bersih seperti inilah yang biasa (berlaku, di majelis-majelis nyanyian dan musik di masa dahulu.

Inilah gambaran yang ada dalam benak fikiran ketika disebut lagu-lagu, terutama lagu-lagunya budak-budak wanita. Ketika semua persyaratan ini tidak dipenuhi itulah yang dimaksud dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya :

 “Sungguh akan ada manusia dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya bukan dengan nama yang sebenarnya, kepala-kepala mereka dihiasi dengan alat-alat musik dan para biduanita, Allah akan memasukkan mereka ke dalam tanah dan mereka akan dirubah menjadi kera-kera dan babi.”

(HR.Ibnu Majah). 

4.  Hendaklah nyanyian itu jangan berlebihan

Nyanyian atau lagu sebagaimana juga barang-barang lain yang hendaknya tidak berlebihan. Terutama nyanyian yang menyentuh perasaan, yang berbicara tentang cinta dan kerinduan. Karena manusia itu bukan hanya perasaannya saja, dan perasaan bukanlah hanya cinta saja, dan cinta bukanlah hanya kepada wanita saja, dan cinta wanita tidak lain sekedar jasad dan syahwat (fisik dan kesenangan). Oleh karena itu kita harus memperkecil banjir yang dahsyat dari lagu-lagu cinta, dan hendaknya lagu-lagu, acara dan kehidupan kita selanjutnya berjalan secara seimbang. Seimbang antara kebutuhan dunia dan agama, antara hak pribadi dengan hak masyarakat. Dan dalam diri seseorang seimbang antara akal dan perasaannya. Dan di dalam perasaan harus seimbang antara perasaan-perasaan kemanusiaan seluruhnya, baik itu cinta, benci, cemburu, semangat, kebapakan, keibuan, kekanakan dan persaudaraan serta persahabatan dan seterusnya. Karena tiap-tiap perasaan itu ada haknya (pemiliknya).

Adapun berlebihan di dalam menampakkan perasaan cinta secara khusus, berarti itu dapat mengurangi perasaan yang lainnya. Dapat mengurangi fikiran, ruh dan kehendaknya, dan dapat mengurangi hak agama. Sesungguhnya agama ini telah mengharamkan ghuluw (berlebihan) dan pemborosan di dalam segala hal, sampai pun dalam beribadah. Maka bagaimana pula pendapatmu jika sampai berlebihan di dalam permainan dan menghabiskan waktu dengan permainan itu, walaupun asalnya diperbolehkan? Ini membuktikan kosongnya fikiran dan hati dari kewajiban-kewajiban besar dan tujuan-tujuan utama. Dan ini juga menunjukkan atas terabaikannya hak-hak yang lainnya yang cukup banyak yang semestinya juga harus mendapat perhatian dari waktu dan usia seseorang yang terbatas.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Muqaffa’ :      

“Saya tidak pernah melihat dalam pemborosan kecuali di situ ada yang terabaikan.” 

Di dalam hadits juga dikatakan :

 “Seseorang yang cerdik tidak akan memperoleh keberuntungan kecuali dalam tiga hal, bergegas dalam mencari ma’isyah, berbekal untuk kembali kehadirat Allah dan menikmati selain yang diharamkan.” 

Maka hendaklah kita bagi waktu kita antara tiga hal tersebut dengan adil, dan hendaknya kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah akan menanyai setiap insan tentang umurnya dihabiskan untuk apa, dan tentang masa mudanya dia pergunakan untuk apa. 

5.   Hendaknya setiap orang yang mendengarkan lagu-lagu mengenal dengan baik dirinya dan mampu memberikan fatwa kepadanya.

Jika seseorang mendengar lagu kemudian lagu-lagu itu membangkitkan syahwatnya, menimbulkan fitnah dan membuat ia banyak berkhayal serta menjerumuskan ke sisi hewani lebih banyak daripada sisi rohani, maka dia harus menjauhinya. Dan menutup semua pintu di mana angin fitnah dapat menghembus ke dalam jantung agama dan akhlaqnya, sehingga ia dapat beristirahat dengan baik. 

Parpol Islam ditengah Realitas Politik Indonesia

Berbicara mengenai pembangunan bangsa dan negara di Indonesia, maka kita tidak bisa melepaskan dari peranan partai politik dalam dinamika perjalanan bangsa ini. Dinamika partai politik inilah yang telah mewarnai berbagai peristiwa kehidupan politik Indonesia. Dari sekian banyak partai yang pernah ada dan berkiprah di Indonesia, sebagiannya adalah partai Islam.

Partai-partai Islam ini juga telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan kehidupan politik Indonesia. Partai Islam hadir bukan saja telah mengajak bangsa ini belajar bagaimana berpolitik, namun mereka juga telah membuktikan bagaimana sesungguhnya politik yang mereka maknai lewat kiprah para pemimpin mereka yang kemudian berhasil menduduki berbagai posisi strategis yang ada di legislatif maupun eksekutif. Sebagai salah satu bentuk artikulasi dari kepentingan umat Islam, partai politik semestinya mampu mengakomodasi berbagai ragam masyarakat yang ada di Indonesia. Ini dimaksudkan agar kedudukan partai benar-benar bermanfaat bagi umat.

Ternyata dalam realitasnya, hanya sebagian kecil dari partai politik Islam yang sungguh-sungguh berusaha membedah permasalahan bangsa dengan perspektif Islam. Yang ada justeru terlihat munculnya gejala persaingan yang kadang kurang sehat sesama partai politik yang ada. Realitas politik juga menunjukkan bahwa partai-partai yang ada, termasuk partai Islam sekalipun justeru terkadang terjebak pada untuk hanya membangun partainya saja dan cenderung pada orientasi internal. Maka program dan komitmen yang ada dibangun bagi tujuan partai semata, bukan untuk kepentingan rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam ini.

Demikian juga dalam perilakunya, sering kali jauh dari nilai-nilai  Islam itu sendiri. Sebagai contoh, misalnya dalam kampanye;  penampilannya menakutkan masyarakat, merusak sarana umum, isi orasinya saling menghujat, mencela, belum lagi bentrok dengan massa dari partai lain (termasuk sesama partai politik Islam) sehingga tak jarang menimbulkan korban jiwa. Kemudian isu money politics yang merebak,  rebutan jabatan, dan sebagainya.  

Realitas itu tentu jauh dari kesantunan dan moralitas yang seharusnya dimiliki seorang muslim. Sungguh memprihatinkan. Wajar saja jika banyak orang jengah dengan politik, karena beranggapan politik itu kotor. Sekali lagi umat terjebak dalam lingkaran permainan obyek politik. Ironisnya kali ini dilakukan oleh para elit pimpinan, atau kyai-kyai mereka sendiri. Maka tak mengherankan jika sesama partai Islam sering terjadi ketegangan. Bahkan dalam satu partai terjadi pertikaian.  Lalu dimana Islam ditempatkan ? Apa bedanya dengan partai non Islam ? Untuk apa semua itu jika tidak mampu menjadi penawar.

Perjalanan sejarah yang menorehkan luka dan derita di tubuh umat Islam seolah terlupakan. Lalu bagaimana pertanggungjawabannya terhadap umat Islam yang kebingungan. Karenanya tidak perlu heran jika umat Islam justru memberikan loyalitas kepada partai lain yang sama sekali tidak membawa kepentingan umat Islam.  Di tengah kegetiran terhadap realitas yang terjadi pada partai-partai politik Islam, kita juga harus memiliki optimisme bahwa itu semua adalah proses yang belum selesai.

Dibutuhkan waktu yang cukup memadai sehingga pada akhirnya akan bermunculan parpol Islam yang benar-benar ideal. Partai-partai Islam yang ada juga harus mencoba memiliki  komitmen secara maksimal dalam menegakan moralitas politik. Secara ideal pula partai ini harus memiliki keberpihakan yang tegas terhadap nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan. Parpol ini juga mesti berani berbeda dengan parpol lain dalam urusan kemunkaran dan kemaksiatan.

Dalam masalah yang sama, bisa saja partai lain memiliki kemudahan dan kecepatan dalam memutuskan sesuatu, dan ini jelas berbeda pada parpol Islam yang kadang dalam memutuskan sesuatu harus menyelaraskan dengan nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam. Kondisi ini akan lebih kuat terjadi pada partai yang berasaskan Islam. Partai seperti ini standar moralitas yang dilakukannya pun  disandarkan pada ajaran Islam. Sehingga dapat disimpulkan,  alasan kehadiran partai-partai Islam ada dua, yaitu alasan praktis: ketiadaan atau setidaknya minim moralitas dalam kehidupan parpol. Yang kedua, alasan substansi, yaitu sebagai sarana aktualisasi penegakan nilai-nilai Islam.  

Aktualisasi nilai-nilai Islam itu ketika berhasil direalisasikan, maka bukan  saja massa partainya yang akan berbangga tapi juga seluruh rakyat akan merasa mendapatkan nilai positif dari kehadiran partai Islam ini. Kalau benar-benar sebuah partai itu partai yang berkomitmen pada penegakkan Islam sebagai aturan hidup seorang mu’min, maka. konsekwensinya menjadi sangat jelas; perjuangan partai adalah perjuangan Islam lewat institusi partai. Partai dikondisikan bukan satu-satunya sarana dalam merealisasikan tujuan akhir.

Partai hanya akan dipandang sebagai salah satu jembatan perbaikan ummat lewat sebuah wa’sail (sarana) politik. Dari sana akan terlihat betapa dinamika partai akan senantiasa mencerminkan moralitas dan etika Islam yang sesungguhnya.  Kemenangan dalam konteks partai Islam secara ideal adalah kemenangan penegakkan Islam di tengah kejahiliahan umat. Dari kondisi ini partai bisa jadi diposisikan menjadi salah satu mimbar da’wah bagi pencerahan, perbaikan dan pembangunan umat. Jika hal tersebut telah terimplementasi dengan cukup kuat, maka saat itu sarana da’wah menjadi bertambah seiring dengan berhasilnya partai dalam mensosialisasikan berbagai solusi dari masalah-masalah yang dihadapai, baik masalah yang bersifat individual, kemasyarakatan  maupun masalah kenegaraan.  

Dalam artikulasinya di lapangan, seyogyanya partai Islam pun tidak ragu menjadikan Islam sebagai entitas politik secara tegas. Tidak perlu ada keraguan bahwa partai Islam akan dituduh ekslusif dan hanya memperjuangkan agenda-agenda internal semata. Walaupun partai-partai Islam berasaskan Islam, bisa saja aktivitas serta artikulasi politiknya mencerminkan persoalan bangsa yang plural, majemuk dan penuh keragaman, baik suku, agama, ras, budaya maupun kondisi geografis.

Partai Islam juga harus lantang mempropagandakan nilai-nilai Islam sebagai solusi dari sejumlah permasalahan kemanusiaan. Dalam waktu yang bersamaan, diciptakan pula penelitian dan pengembangan konsep-konsep Islam dalam berbagai dimensi kehidupan, baik dalam masalah sosial, politik, ekonomi, hukum, budaya, sastra dan sebagainya. Di samping itu pemberian contoh yang baik oleh para pemimpin dan aktivis partai bagaimana berislam dengan baik, kiranya akan sangat relevan dengan tumbuhnya kepercayaan dari masyarakat. Dari hal itu akan dengan mudah ditebak hasil akhirnya, bahwa masyarakat bukan hanya dihimbau untuk berIslam tapi juga diajarkan bahwa pijakan awal untuk membangun umat   adalah  Islam itu sendiri.  

Bagi masyarakat, politik dengan penegakkan nilai-nilai Islam itu tidak dapat dipisahkan, karena ajaran Islam itu integral, utuh, dan meliputi seluruh bidang kehidupan. Dalam frame berpikir aktivis partai Islam semestinya terdapat paradigma bahwa politik adalah bagian dari dakwah dan dakwah sendiri tidak bisa lepas dari politik.

Dengan demikian, politik juga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai moral yang bersumber pada ajaran agama.  Oleh karena itu,  sebagaimana telah dijelaskan di depan, perilaku politik partai Islam senantiasa berada dalam bingkai moralitas. Karena itu moralitas atau akhlak merupakan  isu sentral yang senantiasa diusung oleh partai Islam.

Salah satu karakter dasar dari partai Islam adalah  moralis. artinya partai Islam harus berupaya secara maksimal menjadikan komitmen moral sebagai ciri seluruh perilaku individu dan politiknya. Partai berupaya menampilkan sisi moralitas yang bersumber pada nilai-nilai Islam. Ini sebagai basis serta keteladanan. Pertimbangan moral akan selalu menjadi tonggak dalam program dan aktivitas yang digulirkan.  

Moralitas juga disamping nilainya cukup penting bagi aktualisasi partai di lapangan, ternyata ia juga menjadi salah satu solusi dari merebaknya krisis besar yang terjadi di Indonesia. Krisis ini apabila dicermati pada awalnya bersumber dari masalah tidak terkendalinya akhlak manusia  pemangku kepemimpinan bangsa dan bahkan rakyat bangsa itu sendiri. Hal itu pulalah yang menyebabkan tumbangnya rezim Orde Baru. Oleh karena itu partai Islam harus mampu menawarkan solusi bagi permasalahan krisis yang berkepanjangan ini dengan menggunakan moral force atau kekuatan moral, terutama di bidang politik. Itulah yang lazim di  sebut dengan politik moral.  Apa yang partai Islam tawarkan tidak boleh berhenti pada sekedar wacana, slogan, ataupun simbol belaka. Namun  harus dipraktekan dalam  perilaku sehari-hari, baik dalam kehidupan berbangsa, berpolitik, bermasyarakat, maupun individu. Mereka harus hadir dengan nilai-nilai Islam dimanapun dan kapanpun. Harus ada komitmen yang tegas bahwa begitulah seharusnya jika umat Islam berpartai.  Jauh dari kesan sangar dalam berkampanye, tidak menganggu kepentingan umum, tidak melupakan aktifitas ibadah, menjaga adab interaksi antara muslim dengan muslimahnya, menolak budaya amplop dalam rapat, mengingatkan kekeliruan dengan sebuah kebaikan, tanpa menyudutkan dan tanpa caci maki. 

Seni dalam Politik

1.      Seni Sebagai Artikulasi Politik

Artikulasi politik dalam khasanah politik tidak semata-mata lewat sarana-sarana politik yang telah tersedia sebagai alat perjuangan politik seperti lewat parlemen dan partai politik. Artikulasi politik ternyata dapat juga dilakukan dengan menggunakan jalur kesenian yang ada di tengah rakyat sebuah negara. Artikulasi ini juga dapat saja pengungkapannya bersifat terbuka atau secara implisit lewat berbagai simbol-simbol yang digunakan. 

2.      Seni Sebagai Alat Propaganda Politik

Kesenian dalam dinamika politik dapat berubah fungsinya menjadi lebih luas, yakni sebagai alat propaganda. Produk-produk kesenian yang ada sangat mungkin dikemas dengan membawa pesan-pesan politik kepada audience yang terlibat. Kemasan ini pada sangat mungkin dilakukan secara rapi, logis dan tetap memiliki jiwa kesenian yang tidak bombastis. Namun perlu diingat bahwa apapun yang dipilih, seyogyanya bagi partai Islam, tetap berada dalam koridor aturan Islam yang jelas.

3.   Seni Sebagai Penarik Massa

Seni selain sebagai propaganda, ternyata juga mampu tampil sebagai alat pengumpul massa. Dengan kesenian yang digelar di sebuah tempat, sedikit banyak akan membuat terciptanya kumpulan massa. Awalnya barangkali saja para penikmat seni, namun lambat laun, yang lainnya-pun bisa jadi tertarik untuk berpartisipasi. Kalau kita cermati, pada dasarnya tidak semua produk kesenian mampu berfungsi sebagai pengumpul massa, dari produk yang ada, paling banyak menarik massa adalah seni pertunjukkan, baik seni suara (nasyid), seni gerak (drama/teater) maupun gabungan keduanya.

4.    Seni Sebagai Relaksasi Politik

Dalam eskalasi politik, seringkali para aktivisnya dihinggapi perasaan jenuh, tegang dan dan rasa saling curiga secara berlebihan. Perasaan semacam itu, berimbas juga pada massa masing-masing partai politik, apalagi menghadapi musim kampanye menuju pemilu. Massa butuh refreshing ditengah gejolak politik yang tak menentu. Namun bagi partai Islam tidak sembarangan hiburan atau produk kesenian bisa diijinkan masuk menjadi alternatif hiburan.

Ada batasan-batasan yang dimiliki partai Islam ketika mendatangkan sebuah hiburan. Yang jelas alternatif hiburan Islami tetap saja dibutuhkan ditengah luapan histeria massa. Ini dibutuhkan dalam kerangka mengurangi efek ketegangan yang terjadi serta mengurangi daya dorong kompetisi yang berlebih.

5.   Seni Sebagai Seni Politik 

Seniman dalam realitas kehidupan yang kita temui, terkadang menjadi makhluk aneh. Artinya seniman seringkali menunjukkan jiwa independensi yang berlebih, baik dalam hubungan dirinya secara personal maupun dalam proses berkesenian dirinya ditengah lingkungannya. Hal ini sampai juga pada produk kesenian yang ia hasilkan. Dalam beberapa kasus banyak seniman yang menjadikan seni hanya untuk seni. Mereka secara ekstrem bahkan ada yang memilih a sosial,  menjadi penikmat kesenian tanpa merespon serta peduli dengan segala perubahan yang terjadi disekelilingnya.

Hal tersebut terjadi dimungkinkan dengan munculnya semangat art to art. Seni untuk seni, bukan untuk yang lain, bukan pula untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan dan bukan pula menjadi sarana mengingatkan manusia untuk hanya mengabdi dan menyembah-Nya. Dunia da’wah saat ini memasuki tantangan baru dalam perjalanannya. Ada banyak persoalan umat kontemporer  yang dulu tidak pernah ada di jaman Nabi dan para sahabat kini muncul dan berkembang di masyarakat. Salah satu perkembangan yang muncul dalam pergerakan da’wah sekarang ini adalah munculnya partai politik sebagai alat perjuangan umat dalam beraktualisasi mencapai sejumlah agenda perjuangan umat. Dari pilihan tersebut, muncul pula sebuah pertanyaan, lewat cara apa sebuah partai akan dikampanyekan pada masyarakat luas sehingga pengaruh da’wah menjadi lebih luas. Untuk itulah muncul berbagai ijtihad dari para pemimpin partai Islam di beberapa negeri Islam untuk memunculkan model kampanye dan propaganda politik dalam kerangka pemenangan da’wah.

Penuntasan agenda tersebut bukan lain untuk mempengaruhi kekuasaan lewat partai politik. Di tengah realitas masyarakat, ternyata kesenian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. makanya lewat kesenian partai politik harus mampu mendekatkan da’wah pada publik yang lebh luas.  

Beberapa Referensi  yang relevan :

Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah (Malaamihu Al Mujtama’ Al  Muslim Alladzi Nasyuduh), Dr. Yusuf Qardhawi, Citra Islami Press, 1997 atau di isnet hompage.

  http://www.geocities.com/tarjikh/PEDOMAN_HIDUP_ISLAMI/HIDUP ISLAMI/seni_budaya.htm).

 http://sinaicairo.port5.com/Mk2.html)

 http://www30.brinkster.com/islamicsquare/artikelislam/artikel12.htm)


Responses

  1. maaf, (sedikit komentar) mengenai lagu2 dan musik, perlu diketahui pula bahwa musik/lagu2 yg memakai alat musik itu dilaknat oleh Allah. karena saya pernah membaca dalil (lupa detail sumbernya tp insya Allah shahih) yg kurang lebih isinya: “ada dua macam suara yg dilaknat oleh Allah yaitu ratapan dan nyanyian.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: