Oleh: Nana Sudiana | 1 Januari 2008

JAWA TENGAH ; KINI SEDANG DIRUNDUNG MUSIBAH

Jawa Tengah merupakan salah satu propinsi yang cukup penting di Indonesia. Di Propinsi yang luas wilayahnya 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa ini terhampar tanah yang subur, yang terbentang mulai dari barat, yang berbatasan dengan Jawa Barat hingga ke timur yang  berbatasan dengan Jawa Timur. Namun, dibalik kesuburan dan keindahan alamnya, Jawa Tengah ternyata juga menyimpan potensi bencana yang dahsyat.  

Kondisi Geografis Secara Umum

Berkaitan dengan kawasan pantainya, di bagian utara Jawa Tengah memiliki dataran rendah yang sempit. Di kawasan Brebes selebar 40 km dari pantai, dan di  Semarang hanya selebar 4 km, sedangkan di kawasan pantai selatan memiliki dataran rendah yang sempit, dengan lebar 10-25 km. Perbukitan yang landai membentang sejajar dengan pantai, dari Yogyakarta hingga Cilacap. Sebelah timur Yogyakarta merupakan daerah pegunungan kapur yang membentang hingga pantai selatan Jawa Timur. Sedang di kawasan pegunungannya, khususnya di bagian selatan terdapat Pegunungan Kapur Utara dan Pegunungan Kendeng. Diantara hamparan keduanya terdapat Gunung Slamet, Dataran Tinggi Dieng, Gunung Prahu, Gunung Ungaran, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. DI Jawa Tengah, ada sebuah sungai yang dari sisi namanya cukup legendaris, yakni Bengawan Solo. Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa (572 km); memiliki mata air di Pegunungan Sewu (Kabupaten Wonogiri). Sungai ini mengalir ke utara, melintasi Kota Surakarta, dan akhirnya menuju ke Jawa Timur dan bermuara di daerah Gresik (dekat Surabaya).  

Banjir dan Longsor di Jawa Tengah

Bencana banjir dan longsor seakan menjadi tradisi tahunan di Jawa Tengah. Di kawasan ini, begitu, memasuki siklus musim kemarau, akan ada banyak daerah-daerah yang kekeringan dan kesulitan air bersih. Namun begitu memasuki musim penghujan, segera saja terjadi banjir dan tanah longsor di mana-mana. Dan anehnya, wilayah-wilayah banjir maupun rawan longsor sebenarnya telah berhasil dipetakan dari tahun ke tahun oleh berbagai pihak, baik dinas sosial, kesbanglinmas mupun pihak lainnya. Namun tetap saja musibah demi musibah terjadi dan seringkali terlambat diantisipasi.    

Musibah yang terjadi menjelang akhir tahun 2007 kali ini meruapakan musibah yang cukup besar bagi rakyat Jawa Tengah. Area bencana kali ini terbagi ke dalam dua kondisi, pertama terkena musibah banjir dan kedua tertimpa longsor. Bencana banjir yang datang dua atau tiga hari yang lalu, yang di awali hujan yang cukup  deras secara terus menerus menimpa banyak daerah, mulai dari Brebes, Tegal, Banyumas, Pekalongan, Grobogan, Solo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, Blora, dan Sukoharjo. Sedangkan longsor terdistribusi di Kabupaten karanganyar, Kerjo, Jumapolo, Jaten, Karanganyar, Ngargoyoso, Metesih, Jatiyoso, Jenawi dan Karangpandan.  Korban banjir saat ini cukup besar, ada puluhan ribu orang mengungsi karena sebagian atau seluruh rumahnya terendam air. Di beberapa daerah, bahkan banjir yang ada, belum dipastikan kapan akan surut. Banjir terparah misalnya ada di Kabupaten Grobogan. Menurut tim PKPU yang sejak hari pertama banjir(Rabu/26/12) ada di sana, keadaan ketinggian air belum jelas surutnya. Air yang menggenang hanya berkurang sedikit saja dari kondisi semula. Hal ini amat mengkhawatirkan, apalagi kalau ada hujan berikutnya yang cukup besar. 

PKPU Membuka 3 Posko  Bencana

Mengingat musibah yang terjadi di Jawa Tengah kali ini, PKPU Jawa Tengah tidak tinggal diam. Bersama puluhan relawan dan tim rescue yang dimiliki, tim segera meluncur ke dua lokasi yang dianggap paling parah dalam dua hari kemarin. Tim pertama dari Semarang merupakan back up untuk puluhan relawan yang ada sebelumnya di bawah koordinasi UPZ PKPU Karanganyar. Kebetulan memang kalau di Karanganyar, telah ada struktur PKPU yang sejak 2003 telah eksis di sana. Tim yang berangkat dari PKPU Jawa Tengah merupakan tim back up yang akan mengkoordinasikan aktivitas serta koordinasi dengan berbagai elemen lokal di sana.   Tim untuk Kabupaten Grobogan berangkat dari Semarang pada hari Rabu (26/12). Kabupaten Grobogan yang merupakan daerah terparah terendam banjir. Di daerah ini hampir 70 persen ibukota kabupaten (kecamatan purwodadi) terendam. Warga yang ada di sana mengatakan bahwa ini adalah banjir terbesar sepanjang 30 tahun terakhir di Grobogan. Banyak warga yang tidak siap mengungsi ketika air datang, karena saat itu diperkirakan banjir datang antara jam 2 hingga jam 5 pagi.  Sementara tim untuk banjir Blora merupakan orang PKPU sendiri yang telah berdomisili di sana yang kebetulan  bersama relawan yang ada langsung membantu evakuasi warga yang kebanjiran rumahnya. Kedalaman air menurut informasi dari Aryanto, penanggungjawab di lapangan, justeru di beberapa tempat terus naik. Air ini naik seiring dengan surutnya air di daerah hulu sungai bengawan solo. Air yang meluap memang diperkirakan berasal dari meluapnya debit air yang ada di Bengawan Solo.       

Sedangkan Tim terbesar merupakan  Tim back up dari PKPU Jawa Tengah yang dipimpin langsung oleh Koordinator Rescue PKPU Jawa Tengah, Wahyu Hidayat. Bersama Wahyu ada tim media, tim evakuasi, driver serta tim umum yang bertugas menjadi penghubung antar tim yang ada di lapangan. Tim ini berangkat menggunakan mobil rescue yang sekaligus berfungsi sebagai mobil ambulance 

Bencana Longsor  dan Perhatian Media

Bencana longsor Karangnyar menurut tim PKPU yang ada di lapangan merupakan bencana terbesar dalam porsi liputan dan pemberitaan media. Ini dimungkinkan karena jumlah korban yang meninggal dunia cukup banyak. Data yang ada masih saling berbeda antar instansi berwenang yang ada di sana. Sementara relawan dan tim rescue PKPU meyakini sekitar 71 orang korban tertimbun tanah. Dari yang 71 tadi, baru 8 orang berhasil dievakuasi. Ini dikarenakan minimnya bantuan alat berat yang ada serta tebalnya longsoran yang menimpa para korban. Di tambah sulitnya mengangkat tanah yang menutupi para korban karena tanah yang ada sedikit demi sedikit mulai memadat. Adapun korban meninggal, berasal dari Kecamatan Ta­wang­ma­ngu, Ngargoyoso, Jumapolo, Jatiyoso, Ker­jo dan Matesih, Karanganyar.  

Di karanganyar sendiri, korban terbanyak berasal dari Du­sun Ledoksari, Kalurahan Tawangmangu, Kecamatan Ta­wang­mangu. Namun beberapa desa lainnya juga mengalami bencana s­e­rupa. Di antaranya Desa Tengklik, Kalisoro, Nglurah maupun desa lainnya. Desa-desa yang disebut terakhir itu belum dilaporkan ada­nya korban jiwa. Dilaporkan pula, jalan utama ke Tawangmangu yang melewati Tengklik juga tidak dapat dilewati, karena terkena longsoran tanah. Demikian pula yang melalui Kecamatan Matesih te­r­jadi peristiwa serupa jalan tertutup karena tanah longsor.  

Wonogiri-pun ternyata tak luput dari bencana

Selain di daerah-daerah tadi, sebenarnya beberapa daerah lain terkena juga bencana seperti di wilayah Wonogiri. Di sana tanah longsor me­nimpa warga di Kecamatan Masaran, dan Kecamatan Tirtomoyo. Dari Wonogiri juga ada laporan dari relawan PKPU yang ada di sana bahwa akibat hujan deras tanpa henti semalam suntuk telah mengakibatkan bencana alam banjir dan tanah longsor di berbagai tempat di wilayah Kabupaten Wonogiri, serta menewaskan tujuh orang. Dua korban dievakuasi, Kariyem (60) dan Ernawati (12). Sedangkan lima korban lainnya belum teridentifikasi. Masih menurut informasi dari Wonogiri, lewat  Bapak Joko Pramono, Kades Bero, Kecamatan Manyaran, didapatkan informasi bahwa Sido (55) warga Kopen, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, tewas tertimbun tanah longsor yang terjadi sekitar pukul 03.30 dini hari kemarin. Selain di sana, di Dusun Semangin RT 02 RW V, Desa Sendangmulyo, telah terjadi tanah longsor yang menimbun tujuh rumah. Dari tujuh rumah tersebut ada dua keluarga yang tidak dapat menyelamatkan diri dan hingga berita ini diturunkan jenazahnya belum dapat diambil.Mereka adalah Tarmin (38), Suliyem (35) istri Tarmin, dan dua anaknya, Yuli (18) dan Bagas (8). Sementara itu, di Selogiri, diketahui bahwa banjir telah merendam 71 rumah di Dusun Nanggan dan Dusun Kalikatir (5 rumah), Desa Gemantar serta di Desa Sendang Ijo tiga rumah. Selain itu, luapan sungai Bengawan Solo telah mengisolasi dua dusun (Gamping dan Ngawen) Desa Sendangijo. Sedangkan di Desa Keloran, Selogiri, terjadi tanah longsor yang merusak 12 rumah. Namun dalam kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa. Tanah longsor di 25 tempat juga terjadi di Desa Pare, Kecamatan Selogiri. Info yang didapatkan Tim PKPU juga mengatakan bahwa bahwa jembatan Mandean yang baru saja dibangun dengan APBD 2007 ini telah hanyut terbawa air. Selain itu, sekitar 50-an rumah di Desa Sawit dan Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro juga terendam air dengan ketinggian rata-rata 50 cm. Informasi tambahan menyebutkan, enam rumah di Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, hanyut terbawa arus sungai Keduang. Kejadian yang sama juga terjadi di Desa Gedong, Kecamatan Ngadirojo. Di Desa ini ada tiga rumah yang hanyut disapu luapan air sungai Keduang. Tak hanya itu, puluhan jembatan yang menghubungkan antardesa maupun antarkampung, juga dikabarkan hanyut.  (Sumber berita diolah dari tim yang ada di Karanganyar, Blora, Grobogan serta Wonogiri).


Responses

  1. aq,asli orang wonogiri.tempat tinggal qu di ngadirojo.bruuu kali ini wonogiri ketimpa musibah kayak gitu…..mungkin itu adalah sebuah peringatan,tapi apakah penduduk disana udah g beradab?dari kesekian banyak warga disana aq rasa mreka orang awam tapi aq sendiri juga g tau kepastiannya!!!!!!!!!!!!!!!?????????????????

    setiyo.

  2. mas setiyo, musibah kadang tidak pandang bulu. beradab atau tidak beradab, bukanlah pembeda saat musibah terjadi.
    yang penting bagi kita, mari instrospeksi, siapa tahu memang ada yang salah dari kita semua.
    yang merasa beradab, mari mengajak yang lain untuk bisa lebih beradab.
    yang merasa baik mari melakukan dan menjadi teladan kebaikan.
    terima kasih atas kunjungannya ke blog ini.

  3. Asssalamualai’kum…
    Dengan semangat 100 tahun kebangkitan bangsa, mudah-mudahan puisi yang dibawakan oleh Dedy Mizwar yang sering ditayangkan di media televisi nasional berikut menjadi kado terindah untuk kita bersama dan memberi semangat kepada kita untuk terus membangun bangsa menuju Indonesia jaya.

    Indonesia Bangkit

    Bangkit itu susah…
    Susah melihat orang lain susah
    Senang melihat orang lain senang

    Bangkit itu takut…
    Takut korupsi
    Takut mengambil yang bukan haknya

    Bangkit itu marah…
    Marah bila martabat bangsa dilecehkan

    Bangkit itu malu…
    Malu menjadi benalu
    malu karena minta melulu

    Bangkit itu mencuri…
    Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

    Bangkit itu tidak ada…
    Tidak ada kata menyerah
    Tidak ada kata putus asa

    Bangkit itu aku…
    Untuk Indonesiaku.

    Salam Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: