Oleh: Nana Sudiana | 16 Februari 2010

:: Berita-Penduduk Muslim Makassar Punya Potensi Zakat

desc

melalui:: Berita-Penduduk Muslim Makassar Punya Potensi Zakat.

Oleh: Nana Sudiana | 19 Desember 2008

Lembaga Sosial Harus Daftar ke Depsos


Ada-ada saja Indonesia ini. Semua orang sepertinya ingin ngurusi semua masalah di negeri ini. Setelah ribut-ribut masalah UU BHP di ranah pendidikan tinggi, kini muncul UU yang disahkan DPR dengan judul
UU Kesejahteraan Sosial.

 

Betapa hebatnya negeri ini, ketika angka kemiskinan masih diributkan siapa yang paling akurat dan cermat, tiba-tiba dengan gagah muncul UU tentang Kesejahteraan Sosial. Bayangan kasus lumpur lapindo langsung terbentuk di memori pikiran kita, betapa tidak jelasnya Menko Kesra kita menangani kasus ini, apalagi kasus-kasus penanganan kemiskinan lainnya, baik akibat dari krisis ekonomi maupun karena bencana.

 

Apalagi yang diinginkan para pemimpin negeri ini. Betapa hebatnya kita, terus dan terus menciptakan regulasi yang kadang dengan mudah diingkari sendiri. Sebagaimana kasus Lapindo yang akhirnya justeru sampai sekarang belum selesai, walau sang menteri sendiri sebenarnya punya kewenangan dan policy dalam penyelesaian kasus ini. Mungkin karena berhubungan dengan properti sendiri ya, jadi nggak jelas prosesnya. Ini juga mungkin lho.

 

Dalam Rapat paripurna, Kamis (18/12/2008), DPR mengesahkan UU Kesejahteraan Sosial. Rapat yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono ini menyetujui setiap lembaga yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial harus daftar dulu ke kementerian dan instansi bidang sosial. Dalam UU ini juga dalam pasal 46 ayat 1 berisi bahwa setiap lembaga yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial wajib daftar. Sedangkan ayat 2 berisi pendaftaran akan dilaksanakan dengan cepat, mudah, dan tanpa biaya.


UU ini muncul, kata Mensos
nya sich “dalam rangka profesionalitas penyelenggaraan kesejahteraan sosial diatur pula materi yang mengatur mengenai sertifikasi dan akreditasi bagi lembaga dan pekerja sosial yang menyelenggarakan kesejahteraan sosial”.


Hebatnya, jika ada institusi atau lembaga tidak memenuhi ketentuan itu, maka institusi atau lembaga tersebut akan dikenakan sanksi padal 49 yang berisi peringatan tertulis, penghentian sementara dari kegiatan, pencabutan izin, dan denda administratif.

Hebatkan.

Inilah Indonesia……..

Oleh: Nana Sudiana | 19 Desember 2008

Ketika Tahun Bertambah Satu

Perjalanan hari, pekan, bulan, kadang tak terasa kita lalui. Tahu-tahu telah setahun waktu berganti. Tahu-tahu usia pun bertambah satu. Seiring berjalannya waktu, sebentar lagi tahun 2008 akan segera berganti dengan tahun 2009 dalam penanggalan miladiyah. Begitu pula hitungan tahun hijriahpun hampir bersamaan berganti. Dari tahun 1429 kini hendak berganti 1430 Hijriah. Kalau kita renungkan, pergantian tahun esensi sesungguhnya bukan sekedar sebuah pertambahan dari suatu waktu ke waktu berikutnya. Dalam perubahan ini, idealnya mengantarkan kita pada kebaikan-kebaikan baru, pada nilai-nilai positif baru, serta pada akumulasi peningkatan nilai tambah diri yang lebih baik. Intinya saat tahun berganti, mari kita pastikan kebaikan bertambah. Akan sayang sekali kalau bertambahnya waktu ternyata tidak diiringi dengan kebaikan dan nilai-nilai positif baru yang didapatkan.

Apa yang terjadi dalam konteks perubahan waktu ini, ternyata melingkupi kita semua sebagai sebuah kelaziman dalam konteks perubahan. Dalam perubahan yang terjadi tentu saja terdapat nilai positif dan negatif yang ada di dalamnya. Walau begitu, mestinya jika kita hitung-hitung, nilai-nilai positif yang ada dalam diri kita sebaiknya berjumlah lebih banyak dibanding dengan nilai negatif yang ada.

Dalam memaknai pergantian tahun ini, mari kita lihat sejauh mana kita telah melangkah dan berada pada arah yang kita cita-citakan dalam hidup kita. Ada dua faktor utama yang harus diikutkan dalam pembicaraan tentang bagaimana kita menilai kemajuan diri kita. Faktor itu adalah, faktor internal dan eksternal.

Secara internal, kita sudah mulai menghitung kemajuan apa saja yang kita dapatkan di tahun ini. Apa nilai-nilai positif yang kita miliki jika dibandingkan setahun yang lalu. Apa pula nilai tambah (baik aspek pengetahuan, wawasan, keterampilan teknis atau apapun yang kita pelajari dan kuasai) yang kita benar-benar mendapatkannya di tahun ini. Dengan membandingkan secara subyektif (karena memang hal ini bisa berbeda setiap orangnya) kita akan memperoleh gambaran jujur tentang bagaimana kita di tahun ini. Apakah berkategori sama dengan tahun sebelumnya, lebih baik atau malah justeru menurun dibandingkan tahun yang lalu.

Adapun faktor eksternal yang bisa kita cermati adalah bagaimana reaksi lingkungan sekitar terhadap kita. Artinya respon lingkungan sekitar menjadi salah satu indikator penting bagaimana kita diposisikan oleh orang lain. Akseptabilitas menjadi penting artinya, dengan melihat bagaimana reaksi yang lain pada diri kita, kita bisa bercermin secara jernih siapa kita sebenarnya dan apa pula yang lingkungan sekitar kita harapkan dari diri kita.

Kita disamping sebagaimana manusia pada umumnya, sesungguhnya memiliki keunikan atau kekhasan yang berbeda. Sekalipun ada yang kembar, tetap saja manusia memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Sekalipun banyak mahasiswa misalnya, tidak banyak orang yang kenal dengan ikon aktivis mahasiswa. Begitu pula dalam dunia apa saja, dibalik yang banyak, ada yang berbeda. Sebaliknya seberapapun bedanya kita, kalau kurang spesifik bisa mengakibatkan kita kurang berbeda. Kurang dikenali dan dianggap khas. Artinya kita harus bisa memposisikan diri apa adanya sebagai sebuah pribadi yang memiliki integritas. Walau keunikan ini secara alamiah kita miliki, kita juga jangan pernah lelah terus dan terus menggali potensi diri kita. Ingat semakin potensi kita tergali, terasah dan teroptimalkan, maka dengan sendirinya, kita akan tumbuh jadi pribadi yang berbeda secara alamiah. Diri kita akan tersegmentasi ke dalam sesuatu yang khas atau unik tanpa harus ngoyo atau menyengaja alias asal beda.

Mari akhiri tahun ini dengan rencana-rencana brilian mengarungi tahun depan. Mari siapkan tahun depan dengan sejumlah kebaikan baru yang akan segera ciptakan. Mari kita bergandengan tangan, menjadikan diri kita adalah bagian dari kebaikan secara bersama-sama. Karena baik sendirian pastilah akan melelahkan, karena baik tapi tak ada teman hanya akan mengantarkan kita pada kesunyian langkah diri. Mari kita tekadkan diri agar hidup kita adalah kehidupan terbaik yang bisa kita persembahkan bagi kehidupan semesta.

Semoga.

Sisi Selatan Kota Semarang Menjelang Siang.

Oleh: Nana Sudiana | 2 Desember 2008

QURBAN SARANA KEPEDULIAN CINTA SEJATI

Setiap manusia pasti punya keinginan, rasa cinta dan impian, walaupun tidak setiap keinginan, rasa cinta dan impian bisa terwujud sesuai harapan. Hal tersebut sangat wajar adanya, bahkan Allah-pun menegaskan hal ini dalam Firman-Nya :

 

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS.Ali Imran(3) : 14).    

 

Rasa cinta yang ada pada manusia tentu saja sebuah rasa yang manifestasinya ada dalam bingkai ketentuan Sang Pencipta, Allah SWT, sehingga ada rambu-rambu yang membatasinya. Di luar itu, rasa cinta yang tanpa landasan sya’riat-Nya jelas hanya akan mengantarkan manusia pada keindahan semu semata. Siapapun yang ingin mencintai karena-Nya, hendaknya ia memahami dimana lanskap cinta diletakan dalam dinamika kehidupan yang dijalaninya. Salah meletakan cinta bukan saja akan menimbulkan fitnah bagi kehidupan seseorang, tapi juga bisa jadi akan menjadi polutan bagi sebuah masyarakat.

 

Qurban Pembuktian Cinta

Bagi yang akhirnya mampu mencapai atau mewujudkan keinginan atau impian yang diidamkan, tentu saja memunculkan rasa kebahagiaan yang dalam. Dan ada beragam sikap manusia yang muncul sebagai ekspresi rasa bahagia tersebut. Ada yang mensyukurinya, ada yang biasa-biasa saja, dan bahkan ada yang justeru menjadi semakin sombong, jauh dari Allah dan menganggap usaha dan kerja keras dirinya-lah yang menyebabkan ia berhasil.

 

Dalam rentang waktu yang di lalui umat Islam, ada momentum yang amat strategis bagi pengingatan kembali spirit ekspresi syukur dan rasa cinta seorang manusia. Momentum itu tidak lain adalah Idul Qurban. Sebuah prosesi yang hanya bisa dilakukan oleh manusia sejati. Manusia yang tahu dengan jelas harus di mana meletakan cintanya di lanskap kehidupan ini.  Mereka yang tidak memahaminya, pastilah akan kesulitan meletakan rasa cinta yang di miliki. Seandainya-pun mereka yang tidak tahu ini sama-sama melaksanakan Qurban, pastilah ia akan merasa terpaksa atau enggan dan tidak menutup kemungkinan rasa ego-nyalah yang muncul saat berqurban “bukankah aku mampu, malu dong sama yang lain kalau tidak qurban”.

 

Qurban sendiri, sebagaimana kita tahu, secara harfiyyah berasal dari kata QarubaYaqrubu-Qurbaanan, yang artinya dekat atau mendekatkan diri. Orang yang berkurban adalah orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah Swt sekaligus mendekatkan dirinya kepada sesama. Betapa pentingnya usaha mendekatkan diri ini (berkurban), sehingga ajaran Islam menetapkan syari’at kurban, dalam bentuk penyembelihan hewan kurban satu tahun sekali kepada yang mampu, yaitu pada setiap Hari Raya ‘Iedul-Adha, ‘Iedul Haj atau disebut juga ‘Iedul Qurban, yang pelaksanaan penyembelihannya bisa dilakukan tanggal 10, 11, 12 ataupun tanggal 13 Dzulhijjah. Ketiga hari terakhir ini disebut hari Tasyriq yang secara harfiyah berarti hari-hari yang penuh dengan daging.

 

Di balik prosesinya yang sederhana, qurban telah menjadi indikator bagi setiap manusia, apakah kita lebih mencintai Allah atau yang lain. Sebagaimana diajarkan Nabiyullah Ibrahim AS, qurban menjadi manifestasi keberhasilan Ibrahim mengalahkan kecintaannya pada selain-Nya. Pertanyaannya kini, sudahkan rasa cinta yang utama dalam diri kita hanya untuk Allah?. Kalau belum, mari kita belajar lewat momentum qurban untuk terus belajar mencintai-Nya, terus menjadikan Allah satu-satunya yang kita sembah dan kita agungkan.

 

Allah SWT berfirman : ” Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”. (QS. Al Kautsar: 1-3)

 

Apa dan Bagaimana Qurban

Idul Qurban adalah salah satu dari dua hari besar umat Islam. Pada hari itu, disunnahkan bagi muslim yang mampu untuk berkurban dengan menyembelih hewan seperti kambing, domba dan sapi. Tujuan ritual itu selain menekankan nilai kemanusiaan dengan berbagi daging qurban pada sesama, tetapi juga makna yang sesungguhnya yakni kita mampu menyelami nilai−nilai yang diwariskan Nabi Ibrahim As seperti pengorbanan, kesabaran dan kemurnian cinta kita kepada Allah SWT, serta memberangus keburukan nafsu manusia yang hanya layak dimiliki binatang.

 

a.    Keutamaan Berqurban

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha (RA.) bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda, artinya, “Tidaklah anak cucu Adam mengerjakan suatu amalan yang lebih disenangi Allah pada hari qurban daripada mengucurkan darah (menyembelih binatang qurban). Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat kelak dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu.”(HR. Tirmidzi).

 

b.    Hukumnya

Ibadah qurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Bagi yang mampu melakukannya, lalu meninggalkan ibadah itu, maka ia dihukumi makruh. Berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi SAW pernah berqurban dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman, bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih qurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

 

Berqurban menjadi wajib karena dua hal:

  1. Bagi seseorang yang bernadzar untuk melakukannya. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, artinya, “Barangsiapa yang bernadzar utnuk mentaati Allah, hendaklah ia melakukannya”.(HR. Al-Bukhari)
  2. Bahwa seseorang mengatakan, “Ini milik Allah atau ini binatang qurban”, Menurut Imam Malik, jika waktu membeli diniatkan untuk diqurbankan, maka hukum menyembelihnya menjadi wajib.

 

c.    Udhhiyah (Binatang Qurban)

  • Berasal dari kata al-udhhiyah dan adh-dhahiyyah yaitu hewan sembelihan seperti unta, sapi, kambing, yang disembelih pada Hari Raya Qur ban dan hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
  • Binatang Yang Diperbolehkan untuk Qurban

Binatang yang boleh diqurbankan adalah unta, sapi dan kambing. Selain ketiga itu tidak diperbolehkan (QS Al-Hajj (22) : 34). Dianggap memadai berqurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, unta yang berumur lima tahun. Tidak ada perbedaan jantan atau betina.

  • Yang Tidak Boleh Disembelih sebagai Hewan Qurban

Tidak boleh berkurban dengan hewan yang buta sebelah matanya, hewan yang kurus yang tidak mempunyai lemak, yang pincang dan yang sakit. Al-Barraï’ bin ‘Azib bercerita, Rasulullah berdiri di tengah-tengah kami seraya bersabda, artinya, “Empat macam yang tidak boleh terdapat pada hewan qurban yaitu buta sebelah matanya yang benar-benar nyata kebutaannya, sakit yang benar-benar nyata sakitnya, pincang yang benar-benar nyata kepincangannya, dan yang kurus yang tidak berlemak.”. (HR. Abu Dawud dan Hakim dengan isnad shahih)

 

d.    Waktu penyembelihan hewan qurban

Waktu penyembelihan hewan qurban adalah setelah shalat ‘Iedul Adhha. Rasulullah SAW. bersabda, artinya, “Barangsiapa menyembelih (hewan qurban) sebelum shalat (‘Iedul Adhha), maka hendaklah ia mengulanginya”. (Muttafaqunï’alaih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu). Sedangkan akhir waktu penyembelihan adalah hari terakhir dari hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah).

 

e.    Bergabung dalam Berqurban

Di dalam berqurban dibolehkan bergabung, jika binatang qurban berupa unta atau sapi, yakni untuk tujuh orang. Diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami menyembelih qurban bersama dengan Nabi di Hudaibiyah, seekor unta untuk tujuh orang, begitu juga sapi.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).


Fenomena Penumpukan Qurban

Dalam praktiknya di lapangan, ternyata kita menjumpai bahwa pendistribusian qurban belum merata di negeri ini. Distribusi di kota−kota besar sudah dianggap cukup dibanding di daerah−daerah yang masih sangat kekurangan. untuk lebih merata, para pequrban yang ada di perkotaan hendaknya berqurban tidak hanya di sekitar tempat tinggal nya saja, agar terhindar dari menumpuknya qurban di titik yang memang sudah cukup tersedia daging qurban. Masih banyak dipelosok−pelosok wilayah yang belum pernah menikmati sekerat daging, bahkan daging qurban sekalipun. Merekalah yang sebenarnya berhak untuk diberi.

 

Salah satu cara untuk mengurangi kelebihan persediaan daging di satu kota adalah dengan berkurban melalui lembaga. Untuk itulah kenapa hadir beberapa lembaga yang memfasilitasi program qurban. Salah satu lembaga yang telah lama berkecimpung dan cukup berpengalaman dalam program ini bernama PKPU. PKPU lewat program qurbannya yang bertajuk Sebar Qurban Nusantara (SQN) adalah program pendistribusian daging qurban ke berbagai daerah di Indonesia. Program nasional ini dilakukan secara serentak oleh 14 cabang PKPU di seluruh Indonesia, dengan sasaran prioritas daerah minus dan rawan bencana.


Alhamdulillah, sejak tahun 2000-2007, SQN telah berhasil menyalurkan amanah untuk mendistribusikan hewan qurban dari 21.582 orang pekurban, senilai 15 milyar rupiah dengan penerima manfaat tidak kurang dari 2,1 juta orang mustahik yang tersebar dari Aceh hingga Papua.


Benefit yang diperoleh dengan berpartisipasi sebagai pekurban pada program SQN :

1.    Mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia

2.    Turut memberdayakan peternak-peternak dhuafa (yang telah dibina oleh PKPU)

3.    Ketenangan karena disembelih sesuai syariah dan dibagikan kepada mustahik pada hari yang sama

4.    Ketentraman, karena dilakukan oleh PKPU, sebuah lembaga yang telah berpengalaman

5.    Tepat sasaran, karena fpkus distribusi di wilayah bencana, miskin, dan kurang pangan

6.    Mendapatkan laporan pendistribusian qurban


Keunggulan berkurban melalui lembaga seperti ini juga, selain tepat sasaran (kepada mereka yang membutuhkan) juga cerdas dalam hal pengemasan daging qurban. PKPU sebagai pelaksana qurban tahun ini memang menggunakan konsep Fresh and Smart dalam distribusi daging qurbannya. Dengan proses smart, berupa daging olahan (abon) diharapkan akan mampu memperluas cakupan penerima dan sasaran yang ada, karena mereka yang jauh-pun bisa dengan mudah mendapat kemanfaatan daging qurban. Di sisi yang lain, daging yang ada, kelebihannya—yang dijadikan abon—akan juga mampu membantu lebih lama orang-orang yang memerlukan makanan, terutama yang terkena bencana alam dan musibah.
Di Jawa Tengah sendiri, tahun lalu, lewat program qurban PKPU, alhamdulillah terdistribusi hewan qurban ke sejumlah tempat di Jawa Tengah seperti Semarang, Demak, Purwodadi, Kudus, Magelang, Wonogiri, Klaten, Kendal, Banjarnegara, Pekalongan, Brebes serta  Majenang. Program qurban ini sendiri merupakan kerjasama PKPU dengan berbagai lembaga/institusi, perusahaan, BUMN, baik yang berada di Jawa Tengah maupun di Jakarta. Apabila Ingin bergabung dalam rangka cinta untuk sesama, hubungi PKPU Jawa Tengah di 081325873723.

Oleh: Nana Sudiana | 24 November 2008

Seni Berkomunikasi

 

Komunikasi merupakan sebuah jembatan untuk membangun suatu hubungan. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi di dunia ini jika tidak ada komunikasi. Kemampuan berkomunikasi identik dengan keberhasilan dalam karier, keluarga dan hubungan sosial. Seorang komunikator handal memiliki peluang untuk meraih sukses yang  seluas-luasnya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan supaya kita dapat mengembangkan seni berkomunikasi.

 

1. Menyimak dgn seksama

Dalam kaligrafi tiongkok, kata komunikasi diartikan sebagai seni mendengar. Kita menjadi lebih bijaksana  bukan ketika berbicara, tetapi ketika mendengarkan. Inti komunikasi sebenarnya bukanlah seberapa fasih kita berbicara, namun seberapa jauh kita dapat mendengarkan dan menyimak pesan komunikasi orang lain.

 

2. Memahami makna sebuah pesan

Sebuah kata belum tentu menjadi sarana untuk menyampaikan pesan. Sebuah ekpresi dapat secara jujur menyampaikan pesan ada apa sebenarnya. Ekspresi tdk bisa menyembunyikan rahasia.

 

3. Mengenal gaya komunikasi

Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda satu dengan yang lain. Gaya komunikasi ini umumnya dipengaruhi oleh beberapa sebab seperti : latar belakang ras, etnis, budaya, latar belakang pendidikan serta pengaruh lingkungan yang ada dan mempengaruhi seseorang. Dengan gaya komonikasi yang kita miliki, kita menjadi khas di depan orang lain. Dalam berkomunikasi sebaiknya tidak mengubah-ubah gaya komunikasi secara terus-menerus, karena selain menunjukan ketidakkonsistetan kita, hal ini juga berakibat pada munculnya kesalahpahaman komuniaksi yang terjadi.

 

4. Memilih saat yang tepat

Berkomunikasi tidak semata-mata sebuah pesan bisa disampaikan, namun menyangkut pula bagaimana suasana ketika proses penyampaian pesan berlangsung pada pihak lain. Pemilihan suasana inilah yang sedikit banyak mempengaruhi perasaan yang tercipta saat pesan disampaikan. Semakin tepat kita memilih momentum, semakin mudah pesan bisa diterima dengan baik. Dalam suasana yang kurang  kondusif, sebaik apapun isi pesan yang disampaikan bisab jadi akan mengalami bias. 

 

5. Memberi apresiasi

Apresiasi kita terhadap siapapun amat berperan dalam komunikasi. Dengan apresiasi positif yang kita kembangkan, memudahkan kita diterima oleh siapapun. Setiap orang pada dasarnya suka diapresiasi dengan baik oleh orang lain maupun lingkungannya. Apresiasi positif juga menumbuhkan munculnya empati dari pihak lain. Dan, jika sebuah komunikasi ini sampai pada penumbuhan rasa empati, dipastikan komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang cukup baik dan berkualitas. 

 

(Sumber inspirasi : Majalah Fashionbiz, 3rd edition, Juli-Sept 2006, hal.38)

Oleh: Nana Sudiana | 5 November 2008

Pemenang Pilgub Jatim Putaran Kedua Belum Bisa Dipastikan

Luar biasa, hanya kalimat ini yang bisa mewakili kondisi saat ini di Jatim paska Pilgub putaran kedua kemarin (Selasa, 4/11). Masing-masing calon pasangan gubernur dan wakil gubernur tentu saja amat tegang menengarai kondisi hasil pilgub yang ada. Dari berbagai quick count yang diselenggarakan, ternyata belum ada yang berani memastikan pasangan mana yang memenangi pilgub, apakah Kaji atau Karsa.

 

Sebagai gambaran, dibawah ini headline jawa pos tentang Pilgub Jatim hari ini, Rabu, 5 November 2008.

 

[ Jawapos, Rabu, 05 November 2008 ]

 

Superketat, Pilgub Jatim Putaran Dua

Belum Berani Bilang Menang

SURABAYA – Jumlah penduduk Jatim mencapai 37 juta jiwa lebih. Sedangkan jumlah pemilih dalam pemilihan gubernur (pilgub) putaran kedua ini lebih dari 29 juta orang.

Namun, suara yang akan menjadi “kunci” kemenangan ternyata hanya berkisar 150 ribu atau setara dengan penduduk satu kecamatan di Surabaya. Kecamatan Wonokromo di Surabaya saja mempunyai penduduk lebih dari 146 ribu jiwa.

 

Ya, seperti prediksi, pertarungan merebut kursi gubernur Jatim kali ini benar-benar ketat. Sampai-sampai, siapa yang bakal keluar sebagai pemenang baru bisa diketahui hingga detik akhir, yakni saat KPU mengumumkan secara resmi hasil penghitungan suara manual.

Seluruh lembaga survei yang melakukan perhitungan cepat (quick count) kemarin memilih “angkat tangan”. Mereka kompak tidak berani memutuskan kandidat mana yang bakal menjadi pemenang. Apakah duet Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) atau pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).

Dari seluruh quick count yang dilakukan sebagian besar lembaga survei, duet Kaji masih leading dengan margin yang superketat. Rata-rata perbedaan suara hanya satu persen.
Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 4 November 2008

Hasil Putaran Kedua Pilgub Jatim

 

Hari ini, putaran kedua pilgub Jatim berlangsung. Sebagaimana diduga banyak pihak, dua pasangan berkompetisi sangat ketat. Sampai dengan sore hari ini, masih belum jelas pihak mana yang dapat memastikan perolehan suaranya lebih  banyak dibanding yang lain.

 

Menurut DPW PKS Jatim, pihak yang berada di gerbong tim Karsa, mereka yakin jika pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) dalam penghitungan sementara pemilihan gubernur Jatim putaran kedua unggul.

sebagaiamana diungkapkan Ketua Tim Pemenangan Pemilu Wilayah DPW PKS Jatim, Yusuf Rohana kepada wartawan detik, di kantor PKS Jalan Kartini No 50 Surabaya “Sementara ini kita yakin KarSa akan menang. Masa kita tidak percaya dengan alat kita sendiri”.

Yusuf menjelaskan, dari hasil survey sementara hingga pukul 15.55 WIB, suara pasangan KarSa mencapai 54% dan pasangan KaJi 46%. Untuk pasangan KaJi menang di 286 TPS se-Jatim. Sedangkan pasangan KarSa menang di 367 TPS se-Jatim.(fat/fat)

 

Saat yang sama, sampai sore ini, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu Publik (JIP) tidak berani mengklaim siapa pemenang pada pilgub putaran kedua Jatim.

Meski hasil quick count yang mereka lakukan di 400 TPS seluruh Jatim dimenangkan pasangan KaJi. Pasalnya, hasil quick qount yang mereka lakukan perbedaan antara KaJi dan KarSa sangat tipis di bawah angka 2 persen.
Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 22 Oktober 2008

Menjadi Pemimpin

 

Pagi hari kemarin, (Selasa, 21 Oktober 2008) secara kebetulan saya diundang untuk hadir dalam acara Dialog Interaktif Orpol, Ormas dan LSM dalam Menyongsong Pemilu Tahun 2009 di Gedung Juang Kota Semarang.  Dalam dialog ini selain persoalan persiapan pemilu yang dipaparkan ada beberapa ungkapan yang cukup menarik dari forum dialog ini.

 

Yang menarik, justeru bukan pada pemaparan bagaimana dan seperti apa pemilu diselenggarakan, namun saya menangkap ada sisi lain yang disinggung secara sepintas oleh salah satu penanya yang ada di forum. Ia sempat berkomentar, bahwa para pemimpin yang akhirnya muncul yang melewati proses pemilu sebenarnya adalah para pemimpin yang bisa jadi para pemimpin instan. Lho kok bisa, dia berargumen bahwa pada jaman dulu, jaman ia muda (kini ia adalah veteran), untuk menjadi pemimpin orang harus susah terlebih dahulu, bahkan ada sebagian yang harus mendekam di penjara-penjara Belanda maupun Jepang.

  Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 25 Agustus 2008

Basis Beringin Kian Terancam

 Seputar Indonesia; Selasa, 15 Juli 2008 

MESIN politik Partai Golkar dinilai semakin terancam menyusul hengkangnya be­berapa tokoh penting partai peme­nang Pemilu 2004 tersebut. Bahkan, munculnya parpol baru seperti Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) diprediksi akan menggerus lumbung suara Partai Golkar.
Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qo­dari mengatakan, hengkang­nya sejumlah tokoh penting merupakan pukulan telak bagi Golkar. Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bah­wa di lingkup internal partai beringin banyak persoalan yang harus diselesaikan. “Sa­lah satu persoalannya adalah popularitas Golkar terus me­rosot akibat mesin parpol tidak bekerja maksimal,” kata Qodari kepada SINDO kemarin.
Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 25 Agustus 2008

Parpol Islam dan Pemilu 2009

Republika; Rabu, 23 Juli 2008 

Dari 34 partai politik peserta pemilu, enam di antaranya merupakan partai politik (parpol) Islam. Dari keenam parpol Islam tersebut, empat di an­taranya parpol Islam lama, yaitu PPP, PKS, PBB, dan PBR, sedangkan dua lainnya merupakan parpol Islam pen­datang baru, yaitu PMB dan PKNU.

Partai Matahari Bangsa (PMB) adalah partai yang didirikan oleh kalangan Muhammadiyah yang tidak puas dengan keberadaan PAN yang dianggap tidak memperjuangkan aspirasi dan orang-orang Muham­madiyah. Berbeda dengan PAN yang berasaskan Pancasila, PMB jelas-jelas mencantumkan Islam sebagai asas partai dengan visi terwujudnya misi Islam rahmatan lil’alamin.

Baca Lanjutannya…

Older Posts »

Kategori