Oleh: Nana Sudiana | 22 Agustus 2008

Fenomena Caleg Artis & Kaderisasi Partai

 

Bagi partai yang kurang percaya diri, artis adalah jembatan menuju popularitas. Namun hal ini tidak berlaku bagi parpol yang memiliki kejelasan proses kaderisasi di dalamnya. Kita lihat saja, umumnya, parpol yang menggunakan artis semakin banyak adalah parpol yang secara internal tidak memiliki proses kaderisasi secara ketat. Proses rekrutmen sdm mereka relatif mudah, terbuka, bahkan “terlalu gampang” bagi siapapun.

 

Sulit rasanya menemukan kesamaan-kesamaan performance kepribadian para elit atau kader- kader terbaiknya. Mereka lebih “hanya” mengandalkan popularitas orang lain yang kemudian bergabung. 

  Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 22 Agustus 2008

FENOMENA ARTIS MENJADI CALEG

Pemilu 2009 adalah pemilu para bintang. Bintang apalagi kalau bukan bintang film, sinetron atau mereka yang dipundaknya ada (bekas) bintangnya. Ya, selain para artis yang meramaikan dunia politik Indonesia saat ini ada juga para purnawirawan jenderal yang berada di jajaran elite politik parpol yang turun gunung dalam proses pencalegan.  

 

Tengok saja beberapa artis yang terlibat saat ini seperti Wulan Guritno, Derry Drajat dan Eko Patrio (PAN), Nurul Arifin (Golkar), Adjie Masaid, Komar, Angelina Sondakh (PD), Rieke Dyah Pitaloka (PDIP),  pedangdut Syaiful Jamil, dan Ayu Soraya. Akankah fenomena artis jadi politikus ini sekadar pemanis dan pendulang suara parpol semata.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 22 Agustus 2008

Pemilu 2009 dan Ancaman Golput

Fenomena pemilu 2009 sedikit banyak memberikan rasa khawatir pada banyak pihak. Ini misalnya, terlihat pada serangkaian pilkada yang berlangsung sepanjang tahun 2008 cukup memberikan gambaran yang kurang positif bagi iklim partisipasi publik dalam menentukan pilihan mereka. Bahkan untuk kasus pilgub di Jawa Tengah, fenomena ini benar-benar terbukti, pilgub dimenangkan golput.

 

Ada beberapa alasan yang setidaknya menjadi dasar kenapa masyarakat sepertinya apatis untuk memberikan hak pilih mereka. Dari beberapa pendapat dan opini yang berkembang, setidaknya alasan tersebut ada 3, yaitu :

  Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 22 Agustus 2008

Daftar Caleg 2009 yang Pindah Kendaraan Politik

Rabu, 20/08/2008 13:20 WIB

detikNews  - Arifin Asydhad

 

Jakarta – Di dunia politik, pindah kendaraan partai politik (parpol) adalah hal biasa yang dilakukan politisi. Setiap kali lima tahun pindah partai politik juga ada. Menyongsong Pemilu 2009, sejumlah politisi menjadi caleg dari parpol yang berbeda dibanding 2004 dan 1999 lalu.

Siapa saja mereka? Berikut di antaranya:
Baca Lanjutannya…

 

Beberapa Hasil Quick Count Pilgub Jatim

Pilgub Jatim hari ini telah digelar dalam suasana aman dan damai, berikut ini beberapa hasil quick count yang berlangsung seiring proses yang terjadi di tengah dinamika pemilihan gubernur di Jawa Timur.

 

Versi LSI

Versi quick count LSI hingga pukul 16.22 WIB,  pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) menempati juara pertama dengan perolehan 26,95% suara.


Setelah Karsa, urutan kedua diduduki oleh pasangan
Khofifah-Mudjiono (Kaji) dengan 25,12 %, urutan ketiga ditempati pasangan Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR 21,39 %), Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam) 19,55 %, dan pasangan Achmady-Suhartono (Ahsan) 7,65 %. Penghitungan ini sudah 92 persen dari 400 TPS sample.

 

Versi Puskaptis

versi penghitungan cepat (quick count) Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menyebutkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) juga unggul dalam Pemilihan Gubernur Jatim hari ini. Bahkan dari hasil tersebut, KarSa diprediksi akan memenangkan cukup satu putaran. Sebab perolehan suaranya mencapai 31,34 %.


“Menurut quick count kami, Karsa tidak perlu melakukan putaran kedua karena perolehan suaranya mencapai 30 % + 1,” jelas Direktur Eksekutif Puskaptis, Husin Yazid, di Hotel Inna Simpang, Surabaya, Rabu  (23/7/2008).Menurut Husin, quick count Puskaptis menggunakan teknik Multistate Random Sampling untuk mengambil data dari 300 – 350 TPS yang tersebar di 38 kecamatan yang meliputi 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 23 Juli 2008

Hasil Pilgub Jatim

Pilkada Jatim sebagai rangkaian strategis pilkada di Jawa digelar hari ini. Sebanyak 29.061.718 warga Jawa Timur, Rabu (23/7) ini, untuk pertama kalinya akan memilih gubernur dan wakil gubernur mereka secara langsung. Dilihat dari jumlah pemilih, pemilihan kepala daerah ini merupakan yang terbesar di Indonesia. 

Pilkada yang diikuti lima pasang calon, yaitu Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji), Sutjipto-Ridwan Hisjam (SR), Soenarjo-Ali Maschan Moesa (Salam), Achmady-Suhartono (Achsan), dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa), ini mungkin juga akan menjadi yang terakhir di Pulau Jawa sebelum pelaksanaan Pemilu 2009.

 Berdasarkan hasil survey terhadap para pemilih yang berlangsung, pemilihan kepala daerah di Provinsi Jawa Timur (Pilgub Jatim), diperkirakan akan berlangsung dua putaran. Pasalnya dari kelima pasangan yang ada dinilai tidak ada yang memenuhi kuota 30 persen.

Hasil sementara quick count dari Lingkaran Survei Indonesia dan Jaringan Isu Publik (JIP) hingga pukul 15.20 WIB menyatakan pasangan Karsa masih berada di posisi puncak dengan persentase suara 26,29 persen.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 1 Juli 2008

Pilgub Jatim ; Black Campaign Mulai Marak

 

Menjelang pemilihan gubernur Jatim, 23 Juli 2008 suasana politik Jatim mulai memanas. Bahkan di beberapa tempat telah muncul nuansa black campaign secara terbuka pada salah satu calon.

 

Di Nganjuk, paska shalat jum’at, umat Islam yang berada di sekitar Masjid Agung Nganjuk dikejutkan dengan munculnya ratusan poster dan selebaran bergambar salah satu calon gubernur yang dituding anak komunis.


Menurut pantauan, ratusan poster itu tertempel di antaranya di Jalan Megantoro, Jalan Basuki Rahmad, dan Jalan Ahmad Yani. Selain bergambar Soekarwo, terdapat tulisan bernada provokatif tentang pengakuan seseorang yang menyatakan pasangan Syaifullah Yusuf itu sebagai keturunan PKI. Selain itu masyarakat diminta berhati-hati terhadap potensi konflik antara kelompok komunis dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 30 Juni 2008

PDIP dalam Pilkada Jatim ; Tak Seperti di Jateng

Lain ladang, lain belalang. Barangkali pepatah kuno ini juga berlaku dalam konteks Pilkada di rangkaian terakhir pilkada di Jawa, tepatnya kali ini di Jawa Timur. Kemenangan jago dari PDIP Bibit Waluyo dan Rustriningsih dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Tengah tidak membuat kandidat calon gubernur Jawa Timur dari partai lainnya menjadi gamang.

 

Kemenangan PDIP di Jateng, tidak bisa disamakan dengan yang akan terjadi di Jawa Timur. Massa PDIP di Jateng memang sejak awal benar-benar solid untuk mendukung Bibit Waluyo dan Rustriningsih. Sedangkan di Jatim, kondisinya lain,Hal ini terjadi karena perilaku pemilih tidak bisa disamakan di tiap daerah. Sementara, masyarakat Jawa Timur sendiri adalah masyarakat yang sangat kritis.


Di Jatim setidaknya ada 3 besar kelompok pemilih, yakni kelompok pemilih hegemonis, yaitu pemilih yang sangat patuh kepada tokoh masyarakat yang disegani, kedua kelompok pemilih yang marah kepada partainya dan ketiga adalah kelompok bebas.


Faktor lainnya adalah pasangan calon gubernur Jawa Timur Sutjipto dan Ridwan Hisjam dari PDIP belum tentu dianggap sebagai pasangan yang paling diuntungkan dengan banyaknya kader NU yang maju dalam pemilihan gubernur Jawa Timur.

Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 25 Juni 2008

Pilgub di Jawa, Bukan Sekedar Pertaruhkan Citra

Jawa bukan sekedar sebuah entitas semata. Jawa telah pula menjadi ikon penting bagi kapasitas sebuah parpol di Indonesia. Barang siapa menguasai Jawa, ia berpeluang menguasai Indonesia. Tidaklah mengherankan jika semua parpol yang ada berlomba untuk menguasai Jawa. Walau Jawa sendiri kini secara riil terbagi menjadi enam propinsi (Banten, DKI, Jabar, Jateng, DIY dan Jatim), namun tetap saja dalam persfektif geostrategis masih berada dalam satu kesatuan cara pandang.

 

Pilkada pertama yang berlangsung secara berantai di Jawa telah dimulai di Banten, bekas daerah Jawa Barat yang dimekarkan. Pilkada Banten yang merupakan propinsi paling baru telah dimenangkan PDIP. Setelah Banten, DKI menyusul melangsungkan Pilkada. Walau DKI ini merupakan jantung Indonesia, ternyata tidak ada partai lama yang dominan di sini. Yang justeru berjaya malah partai baru di Indonesia, yakni PKS. Pilkada DKI menjadi Pilkada paling dramatis, karena satu partai (PKS) melawan (keroyokan) 22 parpol. Hebat. Partai apa pula ini, yang mampu melawan gabungan partai walau akhirnya tetap harus legawa calonnya terkalahkan.

  Baca Lanjutannya…

Oleh: Nana Sudiana | 25 Juni 2008

HASIL PILGUB JATENG ; GOLPUT MENANG MELAWAN 5 CALON

Golput ternyata menang di Pilgub Jateng. Bayangkan saja, hasil quick count pemenang pilgub, Bibit-Rustri hanya 44 %, padahal Golput diperkirakan lebih dari itu angkanya. Diduga minimal berkisar diangka 45 %. Apakah ini bukti bahwa rakyat Jateng apatis. Atau justeru menjadi bukti juga bahwa rakyat sudah tidak percaya lagi kepada lembaga demokrasi. Setidaknya kepercayaan terhadap pemilu sudah merosot, sehingga diperkirakan Pemilu 2009 jumlahnya semakin besar.
Banyak dari pemilih sengaja tidak datang ke TPS yang tersedia. Ada beragam alasan mengapa pemilih tidak datang. Ada yang alasan karena bekerja, atau ada kegiatan lain. Namun tidak sedikit juga penduduk Jateng yang ternyata tidak terdata menjadi pemilih dan masuk dalam DPT, padahal mereka ada yang ingin partisipasi dalam pilgub.

Baca Lanjutannya…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori