Oleh: Nana Sudiana | 5 November 2008

Pemenang Pilgub Jatim Putaran Kedua Belum Bisa Dipastikan

Luar biasa, hanya kalimat ini yang bisa mewakili kondisi saat ini di Jatim paska Pilgub putaran kedua kemarin (Selasa, 4/11). Masing-masing calon pasangan gubernur dan wakil gubernur tentu saja amat tegang menengarai kondisi hasil pilgub yang ada. Dari berbagai quick count yang diselenggarakan, ternyata belum ada yang berani memastikan pasangan mana yang memenangi pilgub, apakah Kaji atau Karsa.

 

Sebagai gambaran, dibawah ini headline jawa pos tentang Pilgub Jatim hari ini, Rabu, 5 November 2008.

 

[ Jawapos, Rabu, 05 November 2008 ]

 

Superketat, Pilgub Jatim Putaran Dua

Belum Berani Bilang Menang

SURABAYA – Jumlah penduduk Jatim mencapai 37 juta jiwa lebih. Sedangkan jumlah pemilih dalam pemilihan gubernur (pilgub) putaran kedua ini lebih dari 29 juta orang.

Namun, suara yang akan menjadi “kunci” kemenangan ternyata hanya berkisar 150 ribu atau setara dengan penduduk satu kecamatan di Surabaya. Kecamatan Wonokromo di Surabaya saja mempunyai penduduk lebih dari 146 ribu jiwa.

 

Ya, seperti prediksi, pertarungan merebut kursi gubernur Jatim kali ini benar-benar ketat. Sampai-sampai, siapa yang bakal keluar sebagai pemenang baru bisa diketahui hingga detik akhir, yakni saat KPU mengumumkan secara resmi hasil penghitungan suara manual.

Seluruh lembaga survei yang melakukan perhitungan cepat (quick count) kemarin memilih “angkat tangan”. Mereka kompak tidak berani memutuskan kandidat mana yang bakal menjadi pemenang. Apakah duet Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) atau pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).

Dari seluruh quick count yang dilakukan sebagian besar lembaga survei, duet Kaji masih leading dengan margin yang superketat. Rata-rata perbedaan suara hanya satu persen.

Quick count Lembaga Survei Indonesia misalnya. Dari total 400 sampel TPS se-Jatim yang disurvei, duet Kaji meraih 50,44 persen suara. Unggul 0,8 persen atas Karsa yang meraih 49,56 persen.

Demikian juga hasil penghitungan cepat Lingkaran Survei Indonesia. Lembaga ini mencatat, duet Kaji meraih 50,76 persen suara, sedangkan Karsa 49,24 persen atau hanya terpaut 1,52 persen suara.

“Dari hasil quick count ini, kami belum berani menyimpulkan siapa yang bakal keluar sebagai pemenang Pilgub Jatim karena selisih dengan margin error yang terlalu tipis,” kata Adam Kamil, peneliti Lembaga Survei Indonesia, kemarin (4/11).

Dia menjelaskan, perbedaan di dalam margin error bisa mencapai 2 persen. “Karena itu, untuk bisa mengetahui siapa pemenangnya, kita harus menunggu penghitungan manual dan penetapan resmi KPU Jatim,” kata Kamil.

Menurut dia, dengan posisi seperti itu, adanya efek kluster perbedaan jumlah pemilih dari masing-masing TPS dan variasi angka partisipasi yang memungkinkan tingkat error menjadi lebih besar. Artinya, perolehan suara kandidat dari hasil quick count ini bisa bergeser ke atas atau bergeser ke bawah hingga dua persen.

Belum lagi, sampel di beberapa wilayah yang diambil tidak terlalu banyak sehingga beberapa di antaranya digabung dalam satu wilayah. “Dengan begitu, ada kemungkinan berubah,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Riset Lingkaran Survei Indonesia Eka Kusmayadi. Dia mengatakan belum bisa mengklaim siapa pemenang di antara dua kontestan pilgub tersebut.

Sebab, selisih persentase suara di antara keduanya kurang dari dua persen. Pihaknya mengenakan margin error satu persen dalam penghitungan tersebut. Kedua pasangan sama-sama punya peluang membalik keadaan. ”Ini kali pertama terjadi dalam sejarah LSI di pilgub Indonesia,” katanya.

Eka mengakui, pilgub putaran kedua Jatim ini berlangsung ketat. Bahkan, di daerah kantong pun, pasangan unggulan tidak bisa menang dengan selisih besar. Selisihnya berkutat di angka 10 hingga 15 persen. Tak banyak daerah yang memenangkan salah satu pasangan dengan selisih hingga 20 persen. ”Itu pun mereka saling mengalahkan. Satu daerah menang besar, daerah lain giliran lawannya yang menang,” tuturnya.

Direktur PuSDeHAM M. Asfar juga menyampaikan hal senada. Dengan perbedaan perolehan suara yang sangat tipis (di bawah tingkat toleransi kesalahan yang ditetapkan), secara statistik tidak ada satu pun kandidat yang bisa dikatakan sebagai pemenang. “Karena itu, semua masih bisa terjadi,” katanya.

PuSDeHAM kemarin juga melakukan penghitungan cepat. Hasilnya, Kaji meraih 50,29 persen dan Karsa 49,71 persen suara. Hanya saja, mereka tidak menggunakan quick count. Melainkan metode exit pool (mewawancarai para pemilih yang keluar dari TPS).

Sementara itu, dua kandidat sama-sama mengklaim dirinya sebagai pemenang. Bahkan, mereka mengaku sama-sama membuat quick count. Hasilnya tentu memenangkan mereka.

Misalnya, quick count yang dilakukan PKS (salah satu partai pendukung Karsa). Hasilnya, Karsa meraih 53 persen suara dan Kaji 47 persen. Bahkan, para kader PKS kemarin menggelar sujud syukur di Kantor DPW PKS, Jl Darmo, Surabaya. ”Karena itu, kami tetap akan menunggu hasil penghitungan suara resmi dari KPU Jatim,” kata Yusuf Rohana, ketua tim pemenangan pemilu DPW PKS Jatim. Demikian juga, hasil quick count tim sukses Kaji yang menyebutkan bahwa duet jagonya meraih 55,02 persen suara, sedangkan Karsa meraih 44,98 persen.

Yang jelas, besarnya suara Kaji tidak lepas dari perubahan signifikan peta kekuatan jelang coblosan. Sebab, dari beberapa hasil survei, hingga akhir Oktober lalu, duet Karsa masih unggul.

Pada putaran kedua kali ini, memang ada beberapa perubahan signifikan terkait persebaran suara para kandidat. Mereka saling mengalahkan di beberapa daerah yang pada putaran kedua lalu menjadi kantong calon tertentu.

Eka mencontohkan di Jombang. Di salah satu Kota Santri itu Kaji unggul telak dengan raihan 55,71 persen suara, sementara Karsa 44,29 persen. Padahal, pada putaran pertama lalu, daerah itu dimenangkan Karsa. Namun, hasil itu dipukul balik Karsa di daerah tapal kuda. Di Pasuruan, misalnya, Karsa unggul dengan meraih 58,15 persen suara, sementara Kaji 41,85 persen.

Putaran kedua pilgub ini, kata Eka, masih mengusung sentimen gender. Itu dibuktikan dari kecenderungan pemilih wanita yang sebagian besar memilih Kaji. Berdasar jenis kelamin, Khofifah masih menjadi favorit kaum Hawa. Terbukti, dia dipilih 48,68 persen pemilih, sementara Karsa 36,8 persen. Sisanya tidak memberikan jawaban.

Untuk pemilih lelaki, Karsa unggul. Pasangan yang diusung PAN, PD, dan didukung PKS itu dipilih 47,7 persen pemilih pria, sementara 35,5 persen lainnya memilih Kaji. Sisanya tidak memberikan jawaban.

Eka menyatakan, sebelum pencoblosan pihaknya melakukan survei awal. Dia menilai, popularitas Kaji terus meningkat seiring semakin dekatnya waktu pencoblosan. Bahkan, pada dua minggu terakhir, banyak swing voters yang beralih ke Kaji.

Dari hasil quick count Lembaga Survei Indonesia juga ada yang menarik. Beberapa daerah yang dikenal sebagai kantong PDIP maupun Kaji ternyata tidak utuh mendukung duet itu. Di Blitar, misalnya, Karsa malah unggul. Demikian juga di beberapa wilayah lain. Basis Karsa pun banyak ”dicuri” Kaji.

Sementara itu, KPU Jatim memilih berhati-hati menyikapi kenyataan tersebut. Mereka sepakat menunggu rekapitulasi manual yang kini masih berlangsung. ”Kami tidak mau berspekulasi. Sebaiknya kita tunggu. Kami pastikan semua berjalan dengan prosedur,” kata Arief Budiman, anggota KPU Jatim.

KPU sendiri menargetkan rekapitulasi suara bisa diketahui sebelum 12 November. ”Bahkan, bisa lebih cepat. Sebab, kami sudah ditunggu berbagai agenda yang lain,” ujarnya.

Lalu, bagaimana reaksi para kandidat? Soekarwo dan Saifullah tetap optimistis bakal keluar sebagai pemenang. Mereka juga yakin kemungkinan terjadinya perubahan hasil quick count. ”Quick count hanya sebagai alat bantu untuk mengetahui lebih cepat. Tentu itu harus dihormati sebagai sebuah kemajuan teknologi. Tapi, tentu kita harus taat aturan. Apalagi, dukungan kami juga terus bertambah,” tutur Soekarwo.

Saifullah juga mengklaim bahwa Karsa kini unggul atas Kaji. Itu berdasar survei yang dilakukan tim internal mereka. ”Dengan margin error seperti ini, semua masih bisa terjadi,” katanya.

Sementara itu, Khofifah tidak memberikan tanggapan serius terhadap hasil penghitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survei. Menurut dia, meski hasil quick count menyatakan dirinya menang, dia tidak lantas berbangga hati. Istri Indar Parawansa itu memilih menunggu keputusan KPU Jatim. “Saya harap semuanya fair karena itu adalah modal Jatim ke depan,” katanya.

Ketua DPW PPP Jatim Farid Al Fauzi juga berkomentar senada. Sebagai parpol pengusung duet Kaji, katanya, PPP akan mengawal proses penghitungan suara hingga KPU menentapkan hasilnya kelak. “Kita akan cermati terus proses ini,” katanya.(ris/aga)

 

About these ads

Responses

  1. Seru ya?! :D

  2. siapa yang menang!

  3. Pak dHe karwo pasti menang

  4. smoga menang karsa klo menang kajikayaknya banyak masalah……


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: