Republika; Rabu, 23 Juli 2008
Dari 34 partai politik peserta pemilu, enam di antaranya merupakan partai politik (parpol) Islam. Dari keenam parpol Islam tersebut, empat di antaranya parpol Islam lama, yaitu PPP, PKS, PBB, dan PBR, sedangkan dua lainnya merupakan parpol Islam pendatang baru, yaitu PMB dan PKNU.
Partai Matahari Bangsa (PMB) adalah partai yang didirikan oleh kalangan Muhammadiyah yang tidak puas dengan keberadaan PAN yang dianggap tidak memperjuangkan aspirasi dan orang-orang Muhammadiyah. Berbeda dengan PAN yang berasaskan Pancasila, PMB jelas-jelas mencantumkan Islam sebagai asas partai dengan visi terwujudnya misi Islam rahmatan lil’alamin.
PKNU merupakan produk perpecahan internal PKB akibat pemecatan AM Shihab-Syaifullah Yusuf dari jabatan Ketua Umum dan Sekjen PKB oleh Abdurrahman Wahid, Ketua Dewan Syuro. Dalam konflik tersebut, kubu Alwi didukung para kiai khos NU. Kubu AM dan kiai yang mendukungnya kemudian mendirikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).
Beberapa partai Islam lainnya seperti PNU, PP, PSII, PPI Masyumi, dan PKU masing-masing hanya memperoleh satu kursi di DPR. Sebagian besar partai Islam lainnya tidak mampu meraih dukungan untuk mendapatkan kursi di DPR.
Pada Pemilu 2004 jumlah partai politik Islam yang ikut pemilu sebanyak lima partai, PPP, PKS, PBB, PBR, dan PPNUI. Dari jumlah parpol Islam tersebut, tiga di antaranya merupakan parpol Islam baru.
Hasil Pemilu 2004, dari kelima parpol Islam itu, hanya dua parpol Islam yang memperoleh suara signifikan dan memenuhi ET tiga persen, yaitu PPP (8,15 persen) dan PKS (7,34 persen). Bahkan PPNUI sama sekali tidak memperoleh kursi di DPR.
Tantangan dan prospek
Dalam menghadapi Pemilu 2009, ada beberapa tantangan yang dihadapi. Di antara tantangan yang mesti dihadapi berkaitan dengan regulasi UU Pemilu. Dalam UU No 10 Tabun 2008 tentang Pemilu ada aturan tentang parliamentary threshold (PT) 2,5 persen, aturan Daerah Pemilihan (Dapil) 310 kursi dalam setiap dapil, dan penggabungan sisa suara. Dengan regulasi seperti itu akan menjadi tantangan yang berat bagi parpol-parpol Islam (dan juga parpol lainya) untuk dapat meraihnya.
Untuk mencapai PT 2,5 persen suara tentu tidak mudah bagi parpol yang belum mempunyai basis massa yang kuat. Dengan penentuan kursi setiap dapil 3-10 kursi, tingkat kompetisi di antara partai menjadi ketat ditambah dengan pemberlakuan penghitungan suara 50 persen dari BPP akan menambah tingginya tingkat persaingan di antara partai untuk dapat meraih kursi di DPR.
Untuk parpol-parpol Islam, tantangan untuk mendulang suara menjadi berlipat ditambah dengan beberapa faktor lainnya. Pertama, di kalangan umat Islam telah terjadi perubahan orientasi dalam pandangan politiknya. Umat Islam tidak lagi melihat parpol Islam sebagai representasi keislaman, tetapi yang dilihat sejauh mana suatu partai menerapkan nilai-nilai keislaman.
Ketiga, tidak semua umat Islam bersifat ideologis. Artinya bahwa umat Islam tidak memiliki pandangan yang sama bahwa Islam adalah sebuah ideologi. Dengan Islam sebagai ideologi maka diperlukan alai perjuangan melalui pembentukan partai politik Islam. Ternyata umat Islam tidak memiliki pandangan seperti itu. Dengan gambaran seperti itu, lalu bagaimana prospek parpol Islam pada Pemilu 2009. Apakah ada peluang bagi parpol Islam untuk mendulang suara dari pemilih Islam?
Apabila kita merujuk pada survei Indo Barometer pada Juni 2008 lalu, ternyata prediksi perolehan parpol Islam masih relatif kecil. Dalam survei tersebut, perolehan PKS pada posisi 7,2 persen, sementara PPP pada posisi 2,3 persen. Jika survei Indo Barometer ini bisa menjadi salah satu patokan maka parpol Islam dalam menghadapi Pemilu 2009 masih sangat berat.
Selain itu, seperti juga pada Pemilu 2004, pada Pemilu 2009 nanti di antara parpol Islam akan menjadi predator sesamanya. Artinya, bila salah satu parpol Islam suaranya naik maka pada saat yang sama parpol Islam lainnya akan menurun jumlah suaranya. Ini terjadi karena ceruk yang diperebutkan oleh parpol-parpol Islam tidak bertambah, bahkan mungkin berkurang karena berpindah mendukung partai nasionalis dan pluralis.
Persoalan sekarang, bisakah parpol-parpol Islam tidak menjadi predator sesama parpol Islam? Bisakah parpol Islam mendapat dukungan dari ceruk kalangan nasionalis sebagaimana kalangan parpol nasionalis mendapat limpahan dukungan dari massa Islam.
Bila ini bisa dilakukan, maka harapan parpol Islam keluar sebagai partai besar seperti pada zaman Masyumi dulu dapat terwujud. Namun, bila tidak maka parpol Islam akan tetap menjadi partai menengah atau bahkan partai gurem. Semoga tidak!.
Lili Romli
Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI

Assalamu alaikum wr. wb.
Saudaraku tersayang,
lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!
Uang Dihamburkan…
Rakyat dilenakan…
Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
Rakyat diminta menyukseskannya.
Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
DEMOKRASI untuk SIAPA?
Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!
Halqah Islam & Peradaban
–mewujudkan rahmat untuk semua–
“Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam
Dengan Pembicara:
Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)
yang insyaAllah akan diadakan pada:
Kamis, 26 Maret 2009
08.00 – 12.00 WIB
Gedung Al Irsyad
CP: Humas HTI Soloraya
HM. Sholahudin SE, M.Si.
081802502555
Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
hizbut-tahrir.or.id
Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya. (^_^)
Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)
Wassalamu alaikum wr. wb.
Oleh: dir88gun on 20 Maret 2009
at 9:30 am